Anyaman Bambu Silo: Potensi Ekonomi Kreatif di Lereng Gumitir
SILO, JEMBER — Di kaki Gunung Gumitir, Syivak Ariel Hidayatur Rahman (20) melihat peluang ekonomi kampungnya tidak hanya dari kopi, tapi juga dari anyaman bambu yang siap menyentuh pasar lebih luas melalui pendampingan dan pemasaran digital.
Potensi anyaman bambu di Silo
Di Kecamatan Silo, aroma kopi memang lekat dengan keseharian warga. Namun di balik itu, keterampilan anyaman bambu menjadi sumber penghidupan penting.
Kerajinan ini lahir dari teknik turun-temurun dan memuat identitas budaya setempat. Produk seperti keranjang, lampu hias, dan perabot kecil dibuat dengan tangan tanpa proses industri masal.
Anyaman bambu dinilai bisa menembus pasar regional bahkan internasional jika mendapat sentuhan desain, kemasan, dan pemasaran yang tepat.
Tantangan pengrajin
Meskipun kualitasnya baik, pengrajin di Silo menghadapi sejumlah hambatan. Modal usaha terbatas dan akses pasar yang sempit membuat produk berkualitas hanya beredar di lingkup lokal.
Minimnya pemanfaatan teknologi digital dan kurangnya pelatihan juga mempersempit peluang. Selain itu, jaringan distribusi yang belum kuat menahan nilai jual dari naik secara signifikan.
Harapan dan langkah yang dibutuhkan
Syivak, yang kini menjabat Bendahara PAC PDI Perjuangan Kecamatan Silo, menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan untuk mengembangkan potensi itu.
"Potensinya besar sekali. Bahkan sebenarnya bisa masuk pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional,"
Menurutnya, peningkatan kualitas produk, pembaruan desain, perbaikan kemasan, dan pemanfaatan pemasaran digital menjadi langkah prioritas.
"Kami berharap pemerintah hadir dan mendampingi para pengrajin secara lebih dekat,"
Pendekatan seperti pelatihan keterampilan desain, akses modal mikro, serta pembangunan jejaring distribusi dinilai mampu mengangkat nilai ekonomi produk lokal.
Dari bilah-bilah bambu yang dirajut dengan sabar, warga Silo berharap lahir wajah baru ekonomi kreatif Jember. Jika dukungan datang, anyaman bambu bukan hanya pelengkap identitas budaya, tetapi juga sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi desa-desa di lereng Gunung Gumitir.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DPRD Magetan Mediasi Miskomunikasi soal Rencana Bioskop di Pasar Baru
Komisi B DPRD Magetan mediasi miskomunikasi antara Disperindag dan pedagang Pasar Baru terkait rencana pemba...
DPR: Investasi Pertambangan Banyuwangi Harus Lindungi Lingkungan
Komisi IV DPR kunjungi PT BSI Tumpang Pitu; Sonny minta investasi tambang selaras dengan perlindungan lingku...
Lamongan Siapkan 10 Ribu Titik PJU, Fokus di Jalur Pantura
Pemkab Lamongan menyiapkan 10.000 titik PJU baru, fokus di Jalur Pantura untuk tingkatkan keselamatan dan ak...
PDI-P Kanigoro Percepat Regenerasi: 30% Perempuan, 30% Kader Muda
PDI Perjuangan Kanigoro membentuk kepengurusan baru dengan 30% perempuan dan 30% kader muda untuk memperkuat...
Bupati Trenggalek Dorong PDAM Pakai Energi Surya untuk Tekan Biaya
Bupati Trenggalek mendorong PDAM pakai panel surya untuk tekan biaya operasional dan perkuat kontribusi PAD...
Bupati Kediri Dukung Koperasi dan Dorong UMKM Masuk Marketplace
Bupati Kediri dukung koperasi dan dorong UMKM memanfaatkan marketplace untuk meningkatkan daya saing setelah...