Ketua IDAI: Pertolongan Pertama untuk Anak Tersengat Listrik
Ketua Umum IDAI Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso menjelaskan tata cara pertolongan pertama pada anak yang tersengat listrik saat ditemui di Jakarta Selatan, Minggu, 14 Juni 2026. Ia menekankan pentingnya mengikuti kaidah kegawatdaruratan dan bantuan hidup dasar sebelum korban mendapat perawatan medis lanjutan.
Langkah awal: periksa airway, breathing, circulation
Piprim menjelaskan bahwa tindakan pertama adalah menilai kondisi jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi korban. Ketiga aspek ini merupakan dasar untuk menentukan langkah berikutnya dalam situasi darurat.
"Bagaimana airway-nya, jalan nafas-nya, kemudian breathing-nya, pola nafas-nya, dan sirkulasinya seperti apa," kata Piprim.
Penilaian awal ini penting untuk mengetahui apakah korban memerlukan tindakan resusitasi segera, termasuk resusitasi jantung paru (RJP).
Langkah praktis singkat
- Periksa respons dan kesadaran korban.
- Periksa jalan napas untuk memastikan tidak ada sumbatan.
- Nilai pernapasan: apakah napas teratur dan efektif.
- Periksa sirkulasi: nadi dan apakah ada tanda perdarahan atau luka bakar.
Jika korban tidak bernapas atau napas tidak efektif, tindakan RJP mungkin diperlukan sebelum menemui layanan medis.
Kesalahan yang sering dilakukan masyarakat
Piprim mencatat masih banyak orang tua atau penolong yang melewatkan pemeriksaan dasar tersebut dan langsung melakukan tindakan lain yang tidak tepat. Ia mencontohkan kebiasaan menggosokkan minyak pada korban, yang menurutnya bukan prioritas saat menghadapi kondisi gawat.
"Jadi tata laksananya tetap memenuhi kaidah-kaidah untuk bantuan hidup dasar. Bantuan hidup dasar itu yang sedang dilatihkan ke para orang tua," ujarnya.
Pentingnya pelatihan bantuan hidup dasar
Menurut Piprim, pemahaman dan keterampilan bantuan hidup dasar perlu dimiliki masyarakat, terutama orang tua. Dengan keterampilan tersebut, penolong dapat menentukan kebutuhan pertolongan lanjutan dengan cepat dan tepat.
Ia mengingatkan bahwa pada beberapa kasus, korban yang tersengat listrik mungkin langsung memerlukan RJP. Oleh karena itu, pemeriksaan awal yang tepat dapat menyelamatkan nyawa sebelum bantuan medis datang.
Kesimpulannya, saat menghadapi anak yang tersengat listrik, utamakan pemeriksaan airway, breathing, circulation, beri bantuan hidup dasar sesuai kebutuhan, dan segera cari pertolongan medis. Pelatihan BLS bagi orang tua dan pengasuh menjadi langkah pencegahan yang krusial.
Berita Terkait
Kemenkes Ajak Warga Beraktivitas Fisik Rutin sejak Muda
Kemenkes mendorong masyarakat rutin beraktivitas fisik sejak muda untuk menjaga kebugaran dan kemandirian sa...
Mafindo: Klaim Daftar Efek Samping Vaksin Covid-19 Tidak Benar
Mafindo menegaskan klaim daftar efek samping serius vaksin Covid-19 yang viral tidak benar dan mengimbau pub...
Kemenkes Perluas Puskesmas Ramah Lansia di Indonesia
Kemenkes memperluas puskesmas ramah lansia, dengan 8.000 fasilitas telah beradaptasi untuk pemeriksaan kompr...
Kemenkes: Mulai Jaga Kesehatan Sejak Usia 45 Tahun
Kemenkes mengimbau masyarakat mulai menjaga kesehatan sejak usia 45 tahun untuk mencegah hipertensi dan mene...
Kemenkes Perkuat Layanan Ramah Lansia, 87% Puskesmas Telah Transformasi
Kemenkes memperkuat layanan dan ekosistem ramah lansia; sekitar 87% puskesmas sudah menjadi puskesmas santun...
Wamenkes Dante: Lansia Aset Berharga, Bukan Beban
Wamenkes Dante menegaskan lansia adalah aset bangsa; perlu layanan kesehatan ramah dan perawatan jangka panj...