Teknologi

ABU Mendesak Perlindungan Hak Cipta di Era AI Generatif

Bagikan:
Konferensi ABU tentang hak cipta dan AI generatif di Jakarta

ABU mendesak kepastian hukum perlindungan hak cipta seiring maraknya AI generatif dalam industri penyiaran. Pernyataan itu disampaikan oleh Indra Singh, Director of News ABU, saat membuka Konferensi ke-32 ABU Intellectual Property and Legal Committee (IPLC) di Auditorium Yusuf Ronodipuro, Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026. Ia menekankan kebutuhan beradaptasi tanpa mengabaikan etika dan hak kreator.

AI makin menyentuh seluruh proses produksi media

Indra menjelaskan bahwa teknologi AI kini digunakan di berbagai ranah industri media. Contohnya mencakup otomatisasi ruang redaksi, produksi konten berbasis AI, hingga media sintetis. Teknologi ini membuka peluang efisiensi dan format baru dalam penyiaran.

Namun, menurut Indra, transformasi tersebut juga menghadirkan tantangan hukum yang kompleks. Ia mengingatkan perlunya langkah strategis agar inovasi tidak mengorbankan integritas jurnalistik dan hak cipta.

Kebutuhan kepastian hukum dan kompensasi

Salah satu titik perhatian utama adalah pemanfaatan materi media sebagai data pelatihan AI. Indra menyebutkan berbagai jenis karya yang kerap dipakai:

  • Berita dan naskah redaksional
  • Arsip siaran
  • Gambar dan foto
  • Rekaman audio

Ia mengatakan kerangka hukum untuk pemanfaatan data tersebut masih dalam proses perkembangan. Oleh sebab itu, dibutuhkan kepastian hukum terkait perlindungan hak cipta dan mekanisme kompensasi yang adil bagi para kreator.

"Kita harus terus berinovasi. Pada saat yang sama, juga harus melindungi integritas konten, hak para kreator, serta keberlanjutan organisasi media kita,"

Etika, akurasi, dan kepercayaan publik

Haruyuki Ichinohashi, Chairperson ABU IPLC, menegaskan bahwa perkembangan digital dan AI membawa perubahan besar pada penyiaran. Ia mengingatkan bahwa lembaga penyiaran memiliki tanggung jawab menjaga akurasi informasi dan menghormati hak cipta.

"Sebagai lembaga media, broadcaster memiliki tanggung jawab untuk menyajikan informasi yang akurat, adil, dan dapat dipercaya,"

Menurutnya, menjaga kepercayaan publik harus menjadi prioritas saat media mengadopsi teknologi baru.

Langkah ke depan: kolaborasi dan kerangka internasional

Indra menuturkan ABU sedang mempelajari berbagai pendekatan internasional untuk merumuskan kebijakan yang seimbang. Ia mengakui belum semua jawaban tersedia, namun menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor.

Dengan sinergi antara pembuat kebijakan, pelaku industri, dan pemilik karya, ABU berharap dapat membangun aturan yang melindungi kreator sekaligus memungkinkan inovasi berkelanjutan di era AI generatif.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait