Yarsi Bangun Laboratorium Terapi Sel Senilai Rp40 Miliar
Universitas Yarsi membangun laboratorium terapi sel berteknologi tinggi senilai hampir Rp40 miliar untuk memperkuat riset kesehatan nasional. Fasilitas ini disiapkan untuk mengembangkan pengobatan regeneratif seperti stem cell, sekretom, eksosom, hingga precision medicine. Pembangunan ditargetkan rampung pada akhir 2026 dan operasionalnya akan mengikuti proses perizinan dari Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan.
Fasilitas dan fokus riset
Laboratorium baru itu dirancang mendukung penelitian berbagai terapi sel dan produk turunannya. Fokus riset meliputi pengembangan stem cell, terapi platelet-rich plasma (PRP), sekretom, dan eksosom. Selain itu, fasilitas juga menyiapkan infrastruktur untuk studi precision medicine yang menyesuaikan terapi pada karakter biologis pasien.
Teknologi utama dan acuan ilmiah
Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah rekayasa sel dewasa menjadi sel punca. Metode ini mengacu pada teknik yang dikembangkan pemenang Nobel, Shinya Yamanaka. Pendekatan tersebut diharapkan menjadi alternatif pengobatan untuk beberapa penyakit kronis yang saat ini masih bergantung pada obat kimiawi.
Kutipan pendiri Yarsi
"Selama ini kita berobat dengan bahan kimia yang tidak selalu baik bagi manusia. Ke depan, kita memikirkan berobat dengan sel sehingga Yarsi membangun laboratorium untuk mengembangkan teknologi tersebut,"
Keterangan itu disampaikan oleh pendiri Yayasan Yarsi, Prof. Jurnalis Uddin, usai penutupan Dies Natalis ke-59 Universitas Yarsi di Jakarta pada Selasa, 28 Juli 2026.
Hilirisasi dan kerja sama industri
Yarsi juga menyiapkan ekosistem riset yang terhubung dengan industri kesehatan untuk mempercepat hilirisasi hasil penelitian. Institusi menyatakan siap membentuk industri sendiri jika mitra tidak segera berkolaborasi, dengan tujuan memproduksi dan menawarkan hasil riset ke rumah sakit di seluruh Indonesia.
Jadwal, perizinan, dan harapan
Pembangunan laboratorium ditargetkan selesai pada akhir 2026. Operasional akan mengikuti proses perizinan sesuai ketentuan agar produk penelitian dapat diimplementasikan aman dan legal. Rektor Universitas Yarsi, Prof. Fasli Jalal, menilai fasilitas ini penting untuk memperkuat sains kesehatan berbasis teknologi mutakhir.
Dampak bagi layanan kesehatan
Dengan fasilitas ini, pengobatan di masa depan berpotensi beralih ke pendekatan regeneratif yang memfokuskan pada peremajaan sel dan terapi yang lebih personal. Universitas Yarsi berharap riset yang dihasilkan memberi kontribusi nyata bagi pelayanan kesehatan masyarakat dan pengembangan industri medis nasional.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
Siswa SD Boyolali Raih Penghargaan NASA usai Temukan Celah
Seorang siswa SD dari Boyolali mendapat surat penghargaan NASA setelah melaporkan celah broken link hijackin...
Jessica Meir Pimpin Spacewalk ISS Agustus 2026
Komandan ISS Jessica Meir dan Anil Menon dijadwalkan melakukan spacewalk pada 6 Agustus 2026 untuk persiapan...
Kapal Antariksa LINK Alami Kendala, Misi Penyelamatan Swift Tertunda
Kapal antariksa LINK alami gangguan orientasi, dua roda reaksi tak berfungsi dan misi kenaikan orbit Swift d...
BINUS Luncurkan Beasiswa BINUS Scholarship 2027/2028 untuk Talenta Muda
BINUS University meluncurkan BINUS Scholarship 2027/2028 untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi talenta...
Yarsi Terima Hibah Laboratorium Rp5,9 Miliar untuk Riset
Universitas Yarsi terima hibah peralatan laboratorium Rp5,9 miliar pada penutupan Dies Natalis ke-59 untuk m...
Universitas Yarsi Naik ke Peringkat 601 Dunia versi THE Impact
Universitas Yarsi naik ke peringkat 601 THE Impact, didorong akreditasi Unggul dan hibah Rp5,9 miliar untuk...