Van Dijk Kritik Hydration Break Piala Dunia: Ganggu Ritme Laga
Virgil van Dijk mengkritik kebijakan hydration break yang diterapkan FIFA pada Piala Dunia 2026. Kapten timnas Belanda itu menilai jeda minum tiga menit seharusnya berlaku secara situasional, bukan wajib di semua pertandingan. Pernyataan disampaikan usai laga Belanda vs Jepang di Dallas, Senin malam, 22 Juni 2026.
Kritik dari kapten Belanda
Van Dijk mengatakan jeda minum terasa tidak relevan pada beberapa laga. Menurutnya, kondisi cuaca dan fasilitas stadion perlu jadi pertimbangan sebelum menghentikan pertandingan.
“Jeda minum agak menarik, karena saya jelas menonton hampir semua pertandingan sampai hari ini. Dan setiap kali ada jeda sebentar. Tidak terlalu saya sukai,”
Dia juga menyorot fasilitas Dallas Stadium yang memiliki sistem pendingin udara. Karena itu, Van Dijk menilai penghentian pertandingan di stadion tersebut kurang perlu.
Detail kebijakan FIFA
FIFA menetapkan jeda minum selama tiga menit di setiap babak sebagai upaya memprioritaskan kesejahteraan pemain. Pada praktiknya, wasit akan menghentikan pertandingan sekitar menit ke-22 di setiap babak dan menyesuaikan waktu berdasarkan situasi laga.
“Pemain di Piala Dunia 2026 akan mendapat manfaat dari istirahat minum selama tiga menit. Yaitu di setiap babak karena FIFA memprioritaskan kesejahteraan,”
Dampak terhadap ritme laga dan penonton
Van Dijk mengkhawatirkan jeda tersebut bisa memecah ritme permainan. Ia juga menilai jeda berpotensi lebih menguntungkan kepentingan siaran televisi dibanding kebutuhan nyata pemain.
“Saya pikir bagi penonton netral di TV juga tidak senang, jika cuacanya sangat panas, tentu akan bagus. Tapi, menurut saya, kita harus melihatnya di setiap pertandingan secara terpisah,”
Pengamat dan beberapa pemain lain sudah menilai bahwa penerapan yang seragam di semua lokasi dengan kondisi iklim berbeda-beda perlu dievaluasi lebih jauh.
Proyeksi dan evaluasi ke depan
Pernyataan Van Dijk menambah perdebatan soal efektivitas aturan tersebut. Dengan variasi cuaca dan fasilitas antar-stadion, penerapan selektif berdasarkan kondisi pertandingan muncul sebagai opsi yang layak dipertimbangkan oleh FIFA pada acara mendatang.
Debat ini kemungkinan mendorong pihak penyelenggara untuk meninjau ulang pedoman agar kebijakan kesehatan pemain tetap terjaga tanpa mengorbankan alur permainan dan pengalaman penonton.
Pecinta olahraga yang aktif melaporkan sepak bola, bulu tangkis, dan berbagai kompetisi internasional.
Berita Terkait
Ødegaard Pimpin 'Viking Row' Setelah Norwegia Lolos 32 Besar
Ødegaard memimpin selebrasi 'Viking Row' setelah Norwegia menang 3-2 atas Senegal dan memastikan tiket ke ba...
Timnas Iran Tinggalkan Pesan Menyentuh di SoFi Stadium
Timnas Iran meninggalkan surat menyentuh di ruang ganti SoFi Stadium usai imbang 0-0 lawan Belgia, mengucap...
Alex Freeman Bersinar dan Kenang Ayah sebagai Mentor Terhebat
Alex Freeman mencetak gol yang sempat tertunda oleh offside, lalu disahkan VAR, membantu AS menang 2-0 dan l...
Norwegia 3-2 Senegal: Haaland Dua Gol dan Tiket 32 Besar
Norwegia menang 3-2 atas Senegal di MetLife, memastikan tiket 32 besar Piala Dunia 2026; Haaland cetak dua g...
Alasan Haaland Pakai 'Braut' di Punggung Jersey Norwegia
Haaland menulis "Braut Haaland" di jersey Norwegia sebagai penghormatan kepada ibunya, sambil mencetak dua g...
Harry Kane Samai Rekor Lineker dan Beckham di Piala Dunia 2026
Harry Kane mencetak dua gol di laga pembuka Piala Dunia 2026, totalnya jadi 10 gol dan menyamai rekor Gary L...