Warganet Soroti Syarat Uji Nyali Annya Obake di Bekasi
Komunitas horor asal Jepang, Annya Obake, mengundang perhatian publik setelah mengumumkan program uji nyali menginap di sebuah rumah di Bekasi. Pengumuman itu menjadi sorotan pada awal Juni 2026 setelah unggahan warganet yang mempertanyakan syarat peserta, termasuk keharusan memiliki fisik yang kuat dan larangan membawa ponsel.
Pengumuman dan syarat utama
Panitia mencantumkan sejumlah ketentuan yang wajib dipatuhi peserta selama mengikuti kegiatan. Dari keterangan yang beredar, salah satu syarat yang paling menuai komentar adalah kewajiban peserta "memiliki fisik yang kuat".
Beberapa poin ketentuan yang viral antara lain:
- Memiliki kondisi fisik yang kuat dan sehat
- Peserta dilarang membawa ponsel dan barang elektronik selama uji nyali
- Lokasi uji nyali ditentukan dan disiapkan oleh penyelenggara
Reaksi warganet
Unggahan yang mengangkat syarat tersebut memicu beragam tanggapan. Banyak pengguna media sosial mempertanyakan alasan persyaratan fisik dan larangan perangkat elektronik, karena hal itu berpotensi mengurangi kemampuan peserta untuk meminta bantuan jika terjadi keadaan darurat.
"Memiliki fisik yang kuat, artinya memiliki tubuh yang sehat. Fisik yang kuat untuk apa? Yang dikhawatirkan bukan unsur mistisnya, tetapi kredibilitas kegiatan tersebut," tulis akun X @alijavet1, Jumat, 5 Juni 2026.
Risiko dan verifikasi
Pengguna lain mengingatkan publik agar berhati-hati dan melakukan verifikasi sebelum mengikuti kegiatan berhadiah atau tantangan serupa. Mereka menyoroti bahwa acara uji nyali biasanya menampilkan unsur rekayasa oleh penyelenggara, sehingga potensi risiko fisik harus dikaji matang.
Para pemerhati keselamatan publik menilai, larangan membawa alat komunikasi dapat meningkatkan risiko jika terjadi insiden. Oleh karena itu, verifikasi latar penyelenggara, mekanisme keselamatan, dan asuransi menjadi aspek yang sebaiknya dipastikan peserta.
Komentar publik figur
Pesulap Marcel Radhival juga menyoroti lowongan tersebut setelah mendapat pemberitahuan dari warganet. Ia menyebut mekanisme rekrutmen itu aneh dan berisiko.
"Ini sebenarnya aneh banget dan di sana ada peraturan yang menyebutkan ini ada risiko berbahaya," ujar Marcel.
Marcel menilai kecurigaan muncul karena penerima tantangan diminta menjalani uji nyali tanpa membawa handphone atau barang elektronik, sehingga kontrol keselamatan menjadi terbatas.
Catatan akhir
Kasus ini menegaskan pentingnya transparansi penyelenggara acara yang melibatkan elemen risiko. Bagi publik yang tertarik mengikuti program serupa, langkah verifikasi dan memastikan adanya prosedur keselamatan harus menjadi prioritas sebelum mendaftar.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenperin Buka Ruang Gen Z untuk Kembangkan Industri Batik
Kemenperin ajak Gen Z berperan dalam pengembangan industri batik melalui desain, teknologi, dan pemasaran di...
Tokoh Konghucu Budi Tanuwibowo Masuk Wantimpres
Budi Tanuwibowo dilantik jadi anggota Wantimpres; ia terharu karena komunitas Konghucu yang minoritas mendap...
MenPPPA Pastikan Penanganan Perundungan Anak di Tangsel
MenPPPA Arifah Fauzi pastikan penanganan dugaan perundungan anak di Tangerang Selatan prioritaskan keamanan,...
Komdigi Minta Operator Ubah Paket Non-Rollover
Komdigi minta operator segera ubah paket non-rollover agar sisa kuota dilindungi secara ekonomi, bukan hanya...
Komdigi: Notifikasi Tak Cukup Lindungi Sisa Kuota Internet
Komdigi menilai notifikasi belum cukup untuk melindungi sisa kuota internet; beberapa operator masih mengand...
DJKI Perkuat Merek Kolektif untuk Perluas Akses Pasar Regional
DJKI mendorong pemanfaatan merek kolektif lewat ASEAN-HKC untuk memperluas akses pasar regional; tercatat 87...