Ekonomi

Lautan Luas Gandeng Greenvolt, Transisi Energi Jadi Strategi Bisnis

Bagikan:
Penandatanganan kerjasama Lautan Luas dan Greenvolt untuk pengembangan pembangkit surya atap pabrik

PT Lautan Luas Tbk. menandatangani Head of Agreement (HoA) dengan Greenvolt Power Indonesia di Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026, untuk mempercepat penerapan energi bersih di sektor industri. Kolaborasi ini bagian dari strategi bisnis dan upaya dekarbonisasi yang ditujukan meningkatkan daya saing perusahaan.

ESG jadi pijakan bisnis Lautan Luas

Selama lima tahun terakhir Lautan Luas konsisten menjalankan program ESG (Environmental, Social, and Governance). Perusahaan menyatakan pengelolaan ESG yang baik membuka peluang mengikuti tender dari perusahaan multinasional yang kini mulai mensyaratkan skor ESG minimum.

Eurike Hadijaya, ESG Manager PT Lautan Luas Tbk., mengatakan program itu adalah bentuk kontribusi kembali ke Indonesia dan mendukung dekarbonisasi.

"ESG itu merupakan cara Lautan Luas untuk memberikan kontribusi kembali ke Indonesia. Ini menjadi salah satu upaya untuk turut berkontribusi menjalankan program-program yang nantinya bisa membantu dekarbonisasi,"

— Eurike Hadijaya, ESG Manager PT Lautan Luas Tbk.

Menurut Eurike, skor ESG yang baik membuat perusahaan berpeluang besar untuk masuk ke tender-tender customer multinasional. Hal ini dinilai memberi keuntungan kompetitif jangka panjang.

Greenvolt: enabler energi bersih tanpa beban modal

Greenvolt Power Indonesia menilai transisi energi perlu dimaknai sebagai strategi bisnis yang dapat menjadi competitive edge. Perusahaan menekankan pentingnya integrasi energi bersih dengan rencana bisnis jangka panjang.

"Bagaimana kita bisa memilih energi untuk menjadi 'competitiveness edge' di suatu perusahaan sehingga menjadi suatu yang 'long-term',"

— Bobby Benly, Head of Business Development Greenvolt Power Indonesia

Bobby menambahkan banyak industri masih bergantung pada pasokan listrik dari PLN, yang dianggap menyisakan jejak karbon besar. Solusi yang mudah dilaksanakan adalah pemanfaatan panel surya di atap pabrik.

Greenvolt menawarkan model investasi langsung sehingga pelaku industri tidak perlu mengeluarkan modal besar untuk memasang pembangkit surya. Dengan skema partnership, mitra dapat menikmati energi bersih tanpa menanggung beban CAPEX awal.

Target investasi dan cakupan sektor

Greenvolt menargetkan investasi sebesar 300 juta dolar AS untuk membangun kapasitas pembangkit listrik tenaga surya hingga 350 megawatt di Indonesia. Selain kerja sama dengan Lautan Luas, perusahaan juga mulai menjajaki sektor logam, semen, serta makanan dan minuman.

Dengan penandatanganan HoA ini, Lautan Luas dan Greenvolt berharap penerapan energi bersih dapat menurunkan emisi operasional sekaligus memperkuat posisi di pasar internasional. Ke depan, kolaborasi semacam ini dipandang krusial untuk mempercepat transisi energi nasional dan mendorong industri lokal mengadopsi solusi rendah karbon.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait