Tgk Abrar Muda Mundur dari PNA, Akhiri Era Politik di Aceh Selatan
Tgk. Abrar Muda resmi mengundurkan diri dari seluruh kepengurusan dan keanggotaan Partai Nanggroe Aceh (PNA) efektif Rabu, 22 Juli 2026. Keputusan itu disampaikan melalui surat dan dikatakan diambil atas kehendaknya sendiri. Pengumuman ini mengguncang kancah politik di Tapaktuan, Aceh Selatan, karena selama hampir dua dekade ia menjadi motor utama PNA di daerah tersebut.
Jejak politik dan pencapaian
Tgk. Abrar Muda bukan sosok baru dalam politik Aceh. Sebelum perdamaian, ia dikenal sebagai salah satu Panglima dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Setelah konflik, ia memilih jalur demokrasi dan aktif membesarkan PNA, partai yang didirikan mantan gubernur Irwandi Yusuf.
Perannya melampaui jabatan struktural; ia menjembatani komunikasi dari elite hingga akar rumput dan menjadi penggerak mesin partai. Dalam berbagai momentum politik, pengaruhnya kerap menjadi penentu.
Beberapa capaian yang tercatat antara lain:
- Pendukung kemenangan Irwandi Yusuf di Pilkada Aceh 2006 dan 2017.
- Peran sentral dalam kemenangan pasangan H. Azwir S.Sos dan Tgk. Amran pada Pilkada Aceh Selatan 2018.
- Menjaga PNA sebagai kekuatan signifikan di legislatif daerah dengan perolehan 6 kursi pada Pemilu 2019 dan kembali meraih 5 kursi pada Pemilu 2024, sehingga partai mempertahankan kursi Ketua DPRK Aceh Selatan.
Pengunduran diri: alasan dan pernyataan
Dalam surat pengunduran diri yang beredar, Tgk. Abrar menegaskan keputusan tersebut dibuat secara sukarela. Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada kader dan pengurus serta permohonan maaf atas kekhilafan selama mengemban amanah.
“Keputusan saya untuk mengundurkan diri dari kepengurusan dan keanggotaan PNA ini saya ambil secara sukarela dan tanpa adanya paksaan dari pihak mana pun.”
Saat dikonfirmasi secara langsung di Tapaktuan, jawabannya singkat:
“Saya ingin istirahat sejenak dalam kancah politik.”
Dampak dan pekerjaan rumah bagi PNA
Kepergian Tgk. Abrar meninggalkan tantangan besar bagi PNA di Aceh Selatan. Partai harus menjaga soliditas kader, mempertahankan basis suara, dan mencari figur dengan pengaruh yang mampu menggantikan peran strategisnya.
Beberapa tugas mendesak bagi pengurus PNA di daerah adalah:
- Menjaga kohesi internal dan komunikasi antar-kader.
- Mengelola mesin politik untuk mempertahankan kursi legislatif.
- Mengidentifikasi pemimpin baru yang bisa menjembatani elite dan akar rumput.
Konteks dan prospek
Mundur atau hanya jeda, keputusan ini membuka kemungkinan baru dalam konfigurasi politik lokal. Jika benar permanen, pengunduran diri Tgk. Abrar menandai berakhirnya sebuah era yang membantu PNA dua kali menempatkan diri sebagai pemenang pemilu di Aceh Selatan. Namun jika hanya jeda, panggung politik masih berpeluang melihat kembalinya figur berpengaruh tersebut.
Yang jelas, PNA kini menghadapi babak baru tanpa salah satu arsitek politiknya yang paling berpengaruh.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kapolres Akan Periksa Lokasi Dugaan Galian C Ilegal di Dolok
Kapolres Paluta akan memeriksa dugaan galian C ilegal dan stone crusher aktif di Kecamatan Dolok yang diduga...
Publik Kritik Ketidaktransparanan Data Pengunjung PRSU ke-50
Warga dan wakil rakyat mengkritik ketidaktransparanan data pengunjung PRSU ke-50; desaakan turunkan harga ti...
Malam Kesenian Sergai di PRSU 2026 Tekankan Pelestarian Budaya
Bupati Sergai buka Malam Kesenian di PRSU 2026, tekankan pelestarian budaya dan promosi potensi daerah untuk...
Pemkab Tapanuli Utara Gelar Bimtek di Medan, DPRD Kritisi Efisiensi
Pemkab Tapanuli Utara menggelar Bimtek kepala desa di Medan 23–26 Juli 2026, meski DPRD mengusulkan kegiatan...
Puting Beliung Rusak 5 Rumah di Binjai, Pemko Salurkan Bantuan
Puting beliung merusak lima rumah di Binjai pada 23 Juli; Pemko turun tangan menyalurkan seng, kayu, serta p...
BEM PTS Sumut Desak Kepastian Hukum Kasus KIP Kuliah
Aliansi BEM PTS Sumut mendesak Kejatisu segera tetapkan status hukum kasus dugaan penyelewengan dana KIP Kul...