Siswa SD Boyolali Raih Penghargaan NASA usai Temukan Celah
Semarang, Jawa Tengah. Seorang siswa SD dari Boyolali, Jawa Tengah, mendapat pengakuan resmi dari NASA setelah menemukan dan melaporkan celah keamanan pada sistem publik agensi tersebut.
Ibrahim Al Abrar, murid SD Negeri 3 Genengsari, menerima Letter of Recognition dari NASA pada 9 Juli setelah melaporkan kerentanan yang tercakup dalam Vulnerability Disclosure Policy agensi itu.
Penemuan dan pelaporan
Celah yang ditemukan berkaitan dengan broken link hijacking. Link media sosial yang tidak aktif dapat diambil alih pihak lain, lalu dimanfaatkan untuk serangan phishing atau menyebarkan informasi salah dengan nama NASA.
Ibrahim mengirim laporan melalui program pengungkapan bertanggung jawab NASA. Pihak NASA kemudian memverifikasi temuan tersebut berdasarkan prosedur mereka.
Penghargaan dan dukungan lokal
Pada Rabu, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyerahkan sebuah laptop dan perlengkapan pendidikan kepada Ibrahim sebagai bentuk dukungan untuk mengembangkan kemampuan teknisnya.
"Siswa seperti dia layak mendapat dukungan agar terus berkembang,"
Gubernur juga menanyakan cita-cita Ibrahim, yang menjawab ingin berkarier di bidang keamanan siber.
"Saya ingin menjadi profesional di bidang cybersecurity,"
Proses, alat, dan pembelajaran mandiri
Ibrahim mengatakan ia membutuhkan sekitar enam hari untuk memvalidasi celah itu. Ia bekerja tiga hingga empat jam per hari dan memanfaatkan platform kecerdasan buatan DeepSeek untuk membantu identifikasi masalah.
Ia mempelajari pemrograman secara otodidak melalui sumber online, tutorial YouTube, dan komunitas virtual. Ayahnya, yang merupakan guru komputer di sebuah SMK di Boyolali, juga memberi arahan.
Catatan prestasi sebelumnya dan bantuan pendidikan
Ini bukan kali pertama Ibrahim menemukan celah. Sebelumnya ia melaporkan kerentanan pada situs pemerintah provinsi Lampung dan menerima sertifikat penghargaan atas temuannya.
Dinas Pendidikan Jawa Tengah menyatakan laptop yang diberikan bertujuan mendukung pengembangan keterampilan pemrograman dan keamanan siber Ibrahim. Ia juga mendapat beasiswa dari sebuah MTs di Surakarta.
Konteks: Kebijakan pengungkapan kerentanan
Vulnerability Disclosure Policy NASA mendorong peneliti keamanan dan hacker etis di seluruh dunia untuk melaporkan kelemahan secara bertanggung jawab. Tujuannya agar celah dapat ditutup sebelum dimanfaatkan pihak jahat.
Berbeda dengan program bounty yang memberi imbalan finansial, banyak lembaga pemerintah, termasuk NASA, memberi pengakuan publik atau surat penghargaan untuk laporan yang valid.
Kasus Ibrahim menunjukkan bahwa talenta digital kompetitif bisa muncul dari daerah dengan dukungan yang tepat, dan bahwa jalur pelaporan bertanggung jawab penting untuk menjaga keamanan layanan publik global.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
Yarsi Bangun Laboratorium Terapi Sel Senilai Rp40 Miliar
Universitas Yarsi membangun laboratorium terapi sel hampir Rp40 miliar untuk riset stem cell, eksosom, PRP,...
Universitas Yarsi Naik ke Peringkat 601 Dunia versi THE Impact
Universitas Yarsi naik ke peringkat 601 THE Impact, didorong akreditasi Unggul dan hibah Rp5,9 miliar untuk...
UNJ Kembangkan Model Pengasuhan Positif untuk Keluarga Urban
UNJ kembangkan model pengasuhan positif berbasis riset untuk keluarga urban, dilaksanakan 16 Juni–16 Juli 20...
Sensor Smartphone Permudah Deteksi Penyakit dan Keamanan Pangan
Peneliti BRIN kembangkan sensor berbasis smartphone yang deteksi penyakit dan pantau kualitas pangan melalui...
Bukan Mitos, Ubur-ubur Ini Mampu Mengulang Siklus Hidupnya
Jenis ubur-ubur tertentu mampu kembali dari fase dewasa ke polip dan 'mengulang' siklus hidupnya, sehingga s...
Andromeda: Pembentukan Bintang Meredup dalam 500 Juta Tahun
Hubble menemukan pembentukan bintang di Andromeda menurun dalam 500 juta tahun terakhir, dengan penurunan ta...