Sirup Cap Mandau: Legenda Banjarmasin yang Bertahan Lintas Generasi
Sirup Cap Mandau, minuman legendaris khas Banjarmasin, tetap diminati lintas generasi karena menjaga cita rasa dan kualitas tradisi. Pernyataan ini disampaikan pemilik Sirup Cap Mandau, Surjani Tinah Rachman, SE., pada acara UMKM Berbicara Pro1 RRI Banjarmasin, Senin, 13 Juli 2026.
Asal, kemasan, dan varian ukuran
Produk ini awalnya dikemas dalam botol kaca. Seiring waktu, produsen mengubah kemasan untuk menyesuaikan kebutuhan pasar dan distribusi antarpulau. Perubahan itu muncul karena permintaan dari pedagang oleh-oleh yang ingin menjual ke Pulau Jawa.
Tinah menjelaskan sirup diproduksi dalam dua ukuran: 620 ml dan 250 ml. Penggunaan botol plastik dipilih agar produk lebih aman saat dikirim dan tidak mudah pecah.
Strategi mempertahankan cita rasa
Untuk tetap eksis di tengah persaingan produk modern, Sirup Cap Mandau mempertahankan resep dan kualitas tradisional. Perusahaan menekankan menjaga rahasia produksi dan konsistensi rasa yang telah diwariskan dari pendahulu.
"Terutama saat bulan Ramadan dan berbagai momen istimewa, yang kami lakukan terhadap sirup ini agar tetap eksis di tengah persaingan yang semakin ketat dengan mempertahankan rahasia serta menjaga cita rasa dan kualitas," ujar Tinah.
Menurut Tinah, aroma khas dan rasa yang nyaman menjadi alasan utama konsumen memilih sirup ini. Kualitas itu yang membuat banyak pelanggan setia dan wisatawan menjadikannya oleh-oleh khas Banjarmasin.
Lonjakan permintaan saat Ramadan
Musim Ramadan menjadi puncak penjualan bagi Sirup Cap Mandau. Produksi dan distribusi meningkat signifikan untuk memenuhi permintaan pasar lokal maupun provinsi lain di Kalimantan.
"Pada bulan Ramadan itu yang paling banyak ya omsetnya dan di bulan Ramadan juga produk paling banyak diproduksi dan dijual, karena selain saya sebar di provinsi Kalimantan, produk ini juga sering dijadikan buah tangan oleh pengunjung dari luar Kalimantan," ucap Tinah.
Prospek dan tantangan
Meskipun menghadapi gempuran produk modern, Sirup Cap Mandau menunjukkan bahwa pelestarian cita rasa tradisional dan adaptasi kemasan dapat memperluas jangkauan pasar. Ke depannya, keberlanjutan usaha bergantung pada kemampuan mempertahankan kualitas sambil menyesuaikan strategi distribusi.
Dengan permintaan yang tetap tinggi pada momen-momen tertentu, terutama Ramadan, Sirup Cap Mandau berpotensi terus menjadi bagian dari tradisi keluarga dan pilihan oleh-oleh bagi pengunjung dari luar daerah.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...