Seabad Jam Gadang, Menbud Fadli Zon: Bukan Sekadar Penanda Waktu
Jam Gadang menjadi pusat perhatian saat peringatan seabadnya di Bukittinggi, Sabtu malam, 20 Juni 2026. Menteri Kebudayaan Fadli Zon hadir pada Jam Gadang Cultural Night dan menyatakan landmark itu memiliki makna lebih luas daripada sekadar penunjuk waktu.
Peringatan Seabad Jam Gadang
Jam Gadang, yang berdiri sejak era kolonial, diperingati sebagai bagian dari perjalanan sejarah bangsa. Acara puncak menutup rangkaian kegiatan yang dimulai sejak 3 Juni, menurut penyelenggara kota Bukittinggi.
Makna sejarah dan budaya
Jam Gadang dinilai telah menjadi saksi berbagai fase penting, dari masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga pembangunan modern. Menbud Fadli Zon menekankan pentingnya situs ini sebagai simbol identitas Budaya Minangkabau dan penanda zaman.
"Jam Gadang bukan sekadar penanda waktu, tetapi juga penanda zaman,"
Fadli mengatakan perayaan ini menunjukkan kepedulian bersama dalam pelestarian sejarah. Ia menambahkan bahwa kebudayaan adalah kekuatan utama Indonesia sebagai negara multikultural.
"Kebudayaan adalah sumber kekuatan kita. Kita adalah negara yang memiliki keberagaman luar biasa. Termasuk Minangkabau dengan berbagai ekspresi dan nilai budayanya,"
Rangkaian kegiatan selama peringatan
Rangkaian seabad Jam Gadang diisi berbagai program untuk publik. Kegiatan bertujuan memperkenalkan sejarah sekaligus menguatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal.
- Kompetisi fotografi
- Festival Internasional Literasi Minangkabau
- Seminar internasional
- Pertunjukan seni budaya
- Kuliner gratis untuk masyarakat
Respons pemerintahan daerah
Wali Kota Bukittinggi menyatakan kegiatan yang dimulai sejak 3 Juni bermuara pada malam puncak 20 Juni. Menurutnya, acara ini memperkuat posisi Bukittinggi sebagai pusat kebudayaan penting di Indonesia.
"Ini merupakan malam puncak peringatan yang telah kita nantikan... Ini akan memperkuat kecintaan kita terhadap budaya, dan menegaskan posisi Bukittinggi sebagai pusat kebudayaan penting di Indonesia,"
Wakil Gubernur Sumatera Barat menambahkan bahwa Jam Gadang tak hanya ikon kota, tetapi juga simbol perjalanan sejarah bangsa.
Penutup: Pelestarian dan prospek ke depan
Peringatan seabad ini diharapkan tidak berhenti pada seremoni tahunan. Penyenggaraan yang melibatkan banyak pihak diharapkan mendorong upaya pelestarian, edukasi sejarah, dan pengembangan pariwisata budaya di Bukittinggi.
Jam Gadang kini diposisikan bukan hanya sebagai penunjuk waktu, tetapi juga sebagai media pengingat perjalanan panjang bangsa dan sumber inspirasi bagi generasi mendatang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Yenny Wahid: Kebebasan Harus Bawa Kebahagiaan Bersama
Yenny Wahid mengatakan kebebasan harus menghasilkan kebahagiaan bersama dan tidak boleh merugikan orang lain...
Prabowo Undang Petugas Upacara HUT ke-81 ke Hambalang
Presiden Prabowo mengundang petugas upacara HUT ke-81 ke Hambalang sebagai bentuk apresiasi dan pesan menjag...
Menhub Pastikan Pembenahan Menyeluruh Keselamatan Pelayaran
Menhub Dudy Purwagandhi pastikan evaluasi menyeluruh keselamatan pelayaran pasca empat kecelakaan, tekan int...
Pemerintah Rencanakan Pemangkasan Kuota BBM Subsidi 2027
Pemerintah berencana memangkas kuota BBM subsidi menjadi 20,09 juta kl pada 2027, sambil menaikkan alokasi a...
Mendagri Koordinasi Percepatan Penanganan Dampak Gempa NTT
Mendagri Tito Karnavian terus koordinasi percepatan penanganan gempa NTT, fokus evakuasi, listrik, dan distr...
Mendagri Waspadai Gempa Susulan di NTT, Penanganan Dimulai di Pelabuhan
Mendagri Tito Karnavian mengingatkan potensi gempa susulan di NTT; Kementerian PU akan asesmen kerusakan di...