Nasional

Atasi Krisis Sampah Bekasi: PSEL, Pirolisis, dan Pemilahan Rumah Tangga

Bagikan:
Groundbreaking PSEL Bekasi dan strategi pengelolaan sampah terpadu

Pemerintah meluncurkan penanganan terpadu untuk mengatasi krisis sampah di Kota Bekasi, Rabu 26 Agustus 2026. Strategi mencakup pemilahan sampah dari rumah, pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), serta pemanfaatan teknologi pirolisis untuk timbunan lama. Upaya ini dilakukan karena timbulan sampah Bekasi mencapai sekitar 1.800 ton per hari dan masuk kategori darurat.

PSEL: kapabilitas dan target operasi

Pemerintah mulai membangun PSEL Kota Bekasi dengan teknologi Waste to Energy. PSEL ini ditargetkan mampu mengolah sekitar 1.500 ton per hari, setara dengan sekitar 70 persen timbulan sampah kota. Pemerintah menyebut pengoperasian PSEL akan mengurangi emisi TPA sebesar 80 persen dan membuka peluang kerja bagi sekitar 1.000 orang.

Pembangunan Bekasi merupakan bagian dari percepatan program nasional. Sebelumnya groundbreaking PSEL sudah dilakukan di Bali dan Legoknangka, Jawa Barat pada Juli 2026. Selanjutnya direncanakan pembangunan pada area Bogor Raya-1, dengan total rencana 13 lokasi PSEL di seluruh negeri.

Manfaat PSEL

Pemerintah menyoroti empat manfaat utama PSEL Bekasi, yaitu:

  • Mengelola timbulan sampah secara lebih sistematis;
  • Menghasilkan energi hijau untuk suplai listrik;
  • Mengurangi emisi dari tempat pemrosesan akhir;
  • Menggerakkan ekonomi lokal melalui lapangan kerja dan rantai usaha.

Pentingnya pemilahan dari hulu

Namun pemerintah juga menekankan bahwa PSEL bukan solusi tunggal. Pemilahan sampah dari sumber tetap menjadi prioritas untuk mengurangi volume yang masuk ke fasilitas pengolahan. Langkah sederhana ini dinilai dapat memperlancar proses pengolahan dan menurunkan beban operasional PSEL.

'Memilah sampah sejak dari sumbernya merupakan langkah sederhana namun sangat penting. Sampah yang sudah dipilah akan memudahkan proses selanjutnya,' kata Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan.

Pirolisis untuk timbunan lama

Selain PSEL, pemerintah menguji teknologi pirolisis untuk menangani timbunan sampah lama di TPA. Teknologi ini dikembangkan bersama TNI Angkatan Darat dan diuji coba di lima lokasi percontohan. Pirolisis mengubah sampah lama menjadi bahan bakar terbarukan setara solar.

Jika diterapkan secara nasional, pirolisis diperkirakan dapat mengurangi sekitar 20 persen timbulan sampah. Kombinasi PSEL dan pirolisis diharapkan menambah kapasitas pengolahan, meski total PSEL yang direncanakan hanya mampu menangani sekitar 22,5 persen timbulan sampah bila semua beroperasi.

Peran pemulung dan masyarakat

Pemerintah memastikan transformasi pengelolaan sampah tidak menghilangkan mata pencaharian pemulung. Zulkifli menegaskan bahwa keberadaan pemulung masih diperlukan dalam proses pemilahan karena tidak semua jenis sampah dapat diolah oleh PSEL.

'Pemulung tidak usah resah. Tetap bisa memulung sampah yang ada karena tidak semua sampah bisa diselesaikan dengan PSEL,' ujar Zulkifli Hasan.

Ketua Asosiasi Pemulung Indonesia, Pris Polly, menyambut positif pernyataan itu dan menyatakan kekhawatiran pemulung mulai berkurang. Dengan pendekatan hulu hingga hilir, pemerintah berharap program ini dapat menanggulangi krisis sampah Bekasi secara terintegrasi dan berkelanjutan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait