Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Menguat, Tinggalkan Level Rp18.000

Bagikan:
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menunjukkan penguatan ke Rp17.918

Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu, 30 September 2026, meninggalkan level Rp18.000 per dolar AS yang sempat disentuh sehari sebelumnya. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah naik 0,35 persen atau 63 poin menjadi Rp17.918 per dolar AS.

Pergerakan pasar hari ini

Pada penutupan perdagangan Selasa, rupiah sebelumnya melemah tipis 0,02 persen menjadi Rp17.981 per dolar AS setelah sempat menembus level Rp18.000. Namun pada sesi pembukaan Rabu, mata uang domestik kembali menunjukkan penguatan.

Pergerakan ini tercatat seiring fluktuasi harga komoditas dan pergerakan imbal hasil obligasi AS yang masih tinggi. Analis menilai sentimen eksternal tetap menjadi pengaruh utama terhadap arah rupiah.

Faktor penopang dan pembatas penguatan

Menurut Lukman Leong, analis pasar uang dari Doo Financial Futures, penguatan rupiah didukung oleh penurunan harga minyak dunia. Dia mencatat bahwa pulihnya sebagian pasokan dari pipa minyak Saudi mendorong harga Brent turun.

"Rupiah diperkirakan berpotensi menguat terhadap dolar AS. Peluang itu ditopang oleh menurunnya harga minyak dunia,"

Data yang tercatat menunjukkan harga minyak Brent turun 2,6 persen menjadi sekitar USD102 per barel. Penurunan ini memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat, terutama terhadap tekanan biaya impor energi.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun masih tinggi di level 5,23 persen. Kondisi tersebut menjaga permintaan terhadap dolar AS dan membatasi ruang penguatan rupiah.

"Karenanya, penguatan rupiah akan terbatas mengingat dolar AS dan imbal hasil yang masih relatif tinggi,"

Proyeksi pergerakan dan implikasi

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.900-Rp18.050 per dolar AS pada hari ini. Sementara itu, indeks dolar AS diprakirakan bergerak di level 101,3-101,4.

Investor tetap waspada menjelang rilis data ekonomi penting dalam beberapa hari mendatang. Ketidakpastian data tersebut dapat memicu volatilitas kembali pada pasar valuta asing.

Secara ringkas, penguatan rupiah pada pembukaan perdagangan didorong oleh koreksi harga minyak, tetapi lajunya akan terbatas oleh imbal hasil obligasi AS yang masih tinggi dan permintaan terhadap dolar AS.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait