Rupiah Menguat ke Rp17.944 per USD, Didorong Kenaikan Minyak dan Kebijakan BI
Rupiah ditutup menguatRp17.944 per USD atau naik 0,63 persen (114 poin) menurut data Bloomberg. Penguatan ini terjadi meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak global.
Penutupan dan data pasar
Pada penutupan pasar, rupiah berhasil menahan tekanan dolar AS dan mencatat apresiasi. Kenaikan kurs terjadi di tengah kombinasi faktor eksternal dan domestik, termasuk pergerakan harga energi dan langkah kebijakan Bank Indonesia (BI) baru-baru ini.
Dampak konflik Timur Tengah dan harga minyak
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah insiden yang melibatkan militer AS dan Iran. Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi konflik ini mendorong kenaikan permintaan terhadap aset safe-haven dan mendorong harga minyak naik.
“AS melancarkan serangan baru ke Iran pada Selasa, setelah jatuhnya helikopter militer AS di dekat Selat Hormuz. Serangan itu dibalas oleh Iran dengan menargetkan pangkalan militer AS di Yordania dan di sejumlah negara Teluk lainnya,”
Harga minyak ikut naik; Brent tercatat di USD92,29 per barel dan WTI di USD88,97 per barel. Ibrahim memperingatkan bahwa kenaikan minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi global.
“Kenaikan harga minyak juga memperkuat kekhawatiran akan inflasi tinggi karena naiknya harga bahan bakar. Sehingga mengurangi ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga bank sentral AS,” ujar Ibrahim.
Sentimen domestik: kebijakan BI dan lelang surat utang
Di dalam negeri, sentimen positif datang dari keputusan BI yang menaikkan suku bunga pada Selasa kemarin. Langkah ini dinilai membantu stabilisasi pasar uang dan mendorong minat investor pada lelang surat berharga negara.
Ibrahim mencatat bahwa kenaikan suku bunga turut mendukung hasil lelang bertenor 10 tahun, yang menawarkan imbal hasil sekitar 7,4 persen. Selain itu, otoritas terkait menyatakan kebijakan ekspor komoditas strategis tidak dimaksudkan untuk mengambil margin keuntungan berlebihan, melainkan mengoptimalkan penerimaan negara tanpa merugikan pelaku usaha ekspor.
Prospek ke depan
Pelaku pasar kini akan mengamati rilis data inflasi AS untuk Mei 2026, yang diprakirakan naik ke 4,2 persen—level tertinggi sejak April 2023. Data ini diperkirakan akan memengaruhi ekspektasi suku bunga global dan aliran modal ke aset berisiko termasuk mata uang emerging markets seperti rupiah.
Secara garis besar, rupiah berpotensi tetap terpengaruh fluktuasi harga minyak dan sinyal kebijakan moneter internasional, sementara langkah BI akan menjadi faktor penahan volatilitas dalam negeri.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Dibuka Menguat 0,14% ke 6.018,08, Sentimen Minyak & Inflasi Jadi Perhatian
IHSG dibuka menguat 0,14% ke 6.018,08 pada 2 Oktober 2026; sentimen minyak, inflasi, dan ketegangan geopolit...
Rupiah Menguat Dibuka, Risiko Tekanan dari Kenaikan Harga Minyak
Rupiah dibuka menguat ke Rp17.910 per dolar, namun berisiko melemah karena kenaikan harga minyak dan ketegan...
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...