Ekonomi

Kenaikan BI Rate 5,50% Dinilai Jaga Rupiah dan Tekan Inflasi

Bagikan:
Ilustrasi suku bunga Bank Indonesia dan dampaknya terhadap rupiah dan inflasi

Bank Indonesia menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen, kebijakan yang dinilai dapat memperkuat nilai tukar rupiah dan meredam inflasi. Penilaian ini disampaikan oleh Dosen Keuangan dan Perbankan Institut Teknologi dan Sains Mandala Jember, Mustofa, saat dialog bersama Pro3 RRI, Rabu, 10 Juni 2026.

Dampak langsung pada kredit dan konsumsi

Mustofa menilai kenaikan suku bunga akan berdampak luas, salah satunya pada kenaikan bunga pinjaman bagi masyarakat dan pelaku usaha. Kenaikan tersebut berpotensi menaikkan cicilan kredit perumahan, kendaraan, dan modal usaha.

Akibatnya, konsumsi rumah tangga bisa menurun karena alokasi anggaran bergeser untuk membayar bunga pinjaman lebih tinggi. Hal ini juga dapat menekan ekspansi bisnis, terutama usaha kecil dan menengah yang bergantung pada kredit bank.

Ini tentu akan membuat masyarakat melakukan penghematan belanja atau konsumsi ke sektor lain. Karena harus membayar bunga pinjaman lebih mahal

Peran suku bunga dalam menahan inflasi dan memperkuat rupiah

Di sisi lain, Mustofa menyoroti manfaat kenaikan suku bunga terhadap stabilitas makro. Dengan imbal hasil instrumen keuangan domestik yang lebih menarik, daya tarik investasi lokal meningkat dan tekanan terhadap rupiah dapat berkurang.

Menurutnya, suku bunga tinggi juga membantu mengendalikan peredaran uang, sehingga memberikan ruang untuk meredam tekanan inflasi pada harga kebutuhan pokok.

Suku bunga yang naik membuat peredaran uang lebih terkontrol. Harga kebutuhan pokok dapat tetap terjangkau dan tidak memicu inflasi

Perlunya dukungan kebijakan fiskal

Mustofa menekankan bahwa kebijakan moneter perlu dilengkapi langkah fiskal yang tepat. Program fiskal seperti insentif dan bantuan sosial menjadi penting untuk menjaga daya beli masyarakat selama periode pengetatan moneter.

Hal ini untuk tetap menjaga daya beli atau konsumsi masyarakat tetap terjaga. Sehingga pertumbuhan ekonomi tak terganggu

Dengan kombinasi kebijakan moneter dan fiskal yang seimbang, pemerintah dan otoritas moneter dapat meredam risiko penurunan konsumsi sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar dan harga.

Kebijakan kenaikan BI Rate ke 5,50 persen menjadi salah satu alat utama untuk menyeimbangkan tujuan stabilitas harga dan nilai tukar, namun efektivitasnya akan bergantung pada dukungan kebijakan fiskal dan respons pelaku ekonomi.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait