Ekonomi

Rupiah Menguat di Tengah Harapan Perdamaian Timur Tengah

Bagikan:

Jakarta, 5 Agustus 2026 — Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada Rabu setelah pasar global merespons kabar kemajuan mediasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah dan penurunan harga minyak. Mengacu data Bloomberg, rupiah naik 0,52 persen atau 94 poin ke posisi Rp17.933 per USD pada penutupan perdagangan.

Sentimen eksternal dorong penguatan rupiah

Pergerakan rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen positif soal upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah. Pernyataan dari mediator yang menunjukkan adanya kemajuan mendorong harga minyak turun dan menekan apresiasi dolar AS.

“Pasar merespon positif pernyataan Qatar bahwa para mediator telah mencapai kemajuan dalam upaya mengakhiri perang di Timur Tengah. Pernyataan itu mendorong penurunan harga minyak,” ucap Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Rabu, 5 Agustus 2026.

Harga minyak Brent tercatat ditutup di bawah USD80 per barel, capaian pertama sejak awal konflik pada 13 Juli 2026. Meski begitu, pasar tetap waspada karena klaim pihak lain, termasuk penegasan Iran bahwa mereka tidak bernegosiasi dengan AS melalui Qatar.

Pasar menunggu data ketenagakerjaan AS

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga memusatkan perhatian pada indikator tenaga kerja AS. Hasil data ini dinilai kunci untuk memetakan prospek kebijakan suku bunga The Fed.

“Para pelaku pasar menunggu data Perubahan Ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP). Termasuk data Non-Farm Payrolls (NFP) di hari Jumat,” ujar Ibrahim.

Data ADP untuk Juli menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta sebesar 70.000 orang, turun dari 98.000 pada bulan Juni. Menurut analis, angka ketenagakerjaan yang lebih rendah berpotensi mereduksi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

“Angka itu turun dari 98.000 pekerjaan yang tercipta pada bulan Juni. Angka ketenagakerjaan yang lebih rendah akan mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed,” tambah Ibrahim.

Kondisi domestik dan prospek ekonomi

Di dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2026 sebesar 5,29 persen (yoy). Angka ini lebih tinggi dibanding prakiraan sebagian ekonom yang memperkirakan antara 4,8–4,9 persen.

Ibrahim menilai hasil BPS tersebut kontras dengan proyeksi ekonom, namun tekanan eksternal seperti kenaikan biaya produksi, pengetatan kebijakan moneter global, serta dinamika fiskal tetap membatasi ruang tumbuh.

Secara keseluruhan, rupiah diperkirakan akan tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan data ekonomi AS ke depan. Pergerakan harga minyak dan sinyal kebijakan The Fed akan menjadi faktor penentu arus modal dan nilai tukar dalam waktu dekat.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait