The Fed Pertahankan Suku Bunga, Rupiah Menguat Jelang Siang
Rupiah menguat menjelang jeda siang pada Kamis, 30 Juli 2026, setelah The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya. Hingga jeda siang, nilai tukar tercatat di Rp18.065 per dolar AS atau menguat tipis 0,04%, sementara indeks dolar AS turun ke 100,91.
Ringkasan pergerakan pasar
Pada perdagangan sebelumnya, Rabu 29 Juli 2026, rupiah ditutup naik tipis 0,06% ke posisi Rp18.073 per dolar AS. Pergerakan terbaru mencerminkan respons pasar terhadap keputusan moneter AS dan ekspektasi kebijakan bank sentral lain.
Secara singkat, sentimen pasar dipengaruhi oleh tiga faktor utama: keputusan The Fed, ekspektasi ECB, dan kondisi geopolitik regional.
- Posisi rupiah jeda siang: Rp18.065 per dolar AS (naik 0,04%).
- Indeks dolar AS: turun ke 100,91.
- The Fed: suku bunga acuannya dipertahankan pada 3,75%.
Dampak keputusan The Fed
Keputusan The Fed untuk mempertahankan suku bunga meredakan kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut. Penurunan indeks dolar membantu memberikan ruang bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, untuk menguat.
"Setelah The Fed, pasar sekarang menunggu kebijakan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB),"
Pasar memperkirakan ECB akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps), berbeda dengan sikap The Fed saat ini.
Faktor eksternal dan domestik
Selain kebijakan moneter global, sejumlah data ekonomi turut memengaruhi sentimen. Analis mencatat peningkatan kredit konsumsi di Inggris dan menurunnya permintaan perumahan di AS.
"Pada saat yang sama, pasar mengkhawatirkan meningkatnya tensi di Selat Hormuz dan meluas ke kawasan Laut Merah,"
Di dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada pergantian kepemimpinan di Bank Indonesia (BI) setelah Gubernur sebelumnya mengundurkan diri. Ketidakpastian suksesi menjadi salah satu pemicu volatilitas.
"Ke depan diperkirakan rupiah masih akan bergerak volatil di tengah ketidakpastian eksternal yang berlanjut,"
"Intervensi BI dan daya tarik imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) dapat membatasi tekanan pelemahan lebih lanjut."
Prospek dan implikasi
Para analis memandang rupiah akan tetap bergerak volatil dalam waktu dekat. Intervensi BI dan aliran masuk melalui SBN diperkirakan bisa menahan pelemahan tajam, namun risiko dari kebijakan ECB dan ketegangan geopolitik masih membayangi.
Pelaku pasar akan memantau rapat-rapat bank sentral global dan perkembangan geopolitik untuk mengukur arah pergerakan rupiah selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...