Ekonomi

Rupiah Menguat 0,52% ke Rp17.748 di Tengah Ketegangan AS-Iran

Bagikan:
Layar elektronik menampilkan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di bursa

Rupiah ditutup menguat 0,52 persen atau 92 poin menjadi Rp17.748 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, 20 Agustus 2026. Penguatan ini terjadi di tengah meruncingnya ketegangan antara AS dan Iran serta kebijakan moneter dan fiskal di AS yang memengaruhi pasar global.

Penguatan didorong ketegangan geopolitik

Nilai tukar domestik menguat seiring pasar memproyeksikan potensi gangguan perdagangan di kawasan Selat Hormuz. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar untuk menilai ulang risiko dan mencari aset berdenominasi mata uang lain selain dolar AS.

Menurut analis pasar uang Ibrahim Assuaibi, pasar kini bersiap menghadapi kebuntuan berkepanjangan terkait Selat Hormuz setelah pernyataan kebijakan dari pemerintahan AS. Ketidakpastian ini membuat beberapa kapal menghindari jalur perairan strategis tersebut, sehingga mempengaruhi sentimen global.

"Pasar bersiap menghadapi kebuntuan berkepanjangan terkait Selat Hormuz. Presiden Trump menyatakan akan memberlakukan pembatasan ekonomi tambahan dan lebih ketat terhadap Iran," ujar Ibrahim.

Dinamika kebijakan AS dan respons pasar obligasi

Langkah Departemen Keuangan AS memperluas program pembelian kembali sekuritas jangka panjang turut menekan imbal hasil obligasi pemerintah. Penurunan imbal hasil membuat dolar sedikit melemah terhadap mata uang lain, termasuk rupiah.

"Setelah pengumuman kebijakan itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun lebih dari 5 basis poin. Sedangkan imbal hasil tenor 30 tahun turun hampir 9 basis poin," kata Ibrahim.

Sementara itu, risalah rapat The Fed bulan Juli menunjukkan banyak pembuat kebijakan masih melihat kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut jika inflasi tidak kunjung turun. Pernyataan tersebut menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam jangka menengah.

Respons domestik: rencana pengurangan kuota BBM

Dari sisi dalam negeri, pasar merespons positif rencana pemerintah memangkas kuota BBM bersubsidi pada 2027. Namun, rencana itu juga memunculkan kekhawatiran terhadap daya beli kelompok menengah bawah.

"Pengurangan subsidi BBM merupakan bagian dari langkah pemerintah untuk melakukan pengendalian subsidi. Langkah tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menentukan penurunan subsidi BBM tertentu pada 2027," ujar Ibrahim.

"Karena itu, kebijakan pengendalian subsidi BBM perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok menengah bawah," tambahnya.

Investor menunggu data transaksi berjalan

Investor tetap berhati-hati menjelang rilis data transaksi berjalan kuartal kedua yang dijadwalkan pekan ini. Pada kuartal pertama, transaksi berjalan tercatat defisit cukup lebar karena kinerja perdagangan luar negeri yang melemah, sehingga fokus kini tertuju pada perbaikan neraca eksternal.

Pergerakan rupiah ke depan akan dipengaruhi kombinasi sentimen geopolitik, kebijakan AS, dan perkembangan domestik terkait subsidi energi serta data ekonomi makro.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait