Rupiah Menguat ke Rp17.997 Didukung Data Ekonomi Domestik
Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada penutupan perdagangan hari ini setelah pasar merespon sejumlah data ekonomi domestik dan perkembangan geopolitik. Pada sesi akhir, rupiah naik 0,14 persen atau 25 poin ke posisi Rp17.997 per dolar AS, didorong oleh perbaikan indikator manufaktur dan angka inflasi yang relatif terkendali.
Penutupan Pasar dan pergerakan rupiah
Rupiah menutup hari ini dengan penguatan moderat. Pelaku pasar memproses data manufaktur yang kembali ke zona ekspansi serta laporan inflasi bulanan yang menunjukkan deflasi.
Perbaikan aktivitas manufaktur
Laporan PMI manufaktur menunjukkan bahwa aktivitas industri kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026, naik ke level 50,2 setelah sempat berada di zona kontraksi pada Juni. Indikator ini memberi sinyal perbaikan produksi dan sentimen bisnis secara bertahap.
"Aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026 setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya,"
Meski demikian, pemulihan sektor industri belum merata. Kenaikan biaya bahan baku dan lemahnya permintaan ekspor menghambat kecepatan pemulihan karena pelaku usaha lebih berhati-hati dalam pembelian input produksi.
"Namun, pemulihan sektor industri masih bertahap karena kenaikan biaya bahan baku dan pelemahan permintaan ekspor. Pelaku usaha juga hati-hati dalam membeli bahan baku sehingga kondisi itu membatasi laju pertumbuhan industri,"
Inflasi dan deflasi bulanan
Badan Pusat Statistik melaporkan deflasi bulanan sebesar 0,14 persen pada Juli 2026. Namun secara tahunan Indonesia masih mencatat inflasi 2,88 persen.
Indeks Harga Konsumen turun dari 111,89 pada Juni menjadi 111,73 pada Juli. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor utama deflasi dengan penurunan 0,89 persen.
Faktor eksternal yang memengaruhi pasar
Dari luar negeri, pernyataan Presiden AS mengenai pembatalan rencana serangan besar-besaran ke Iran dan klaim adanya permintaan negosiasi dari pihak Iran meredakan kekhawatiran pasokan minyak. Klaim tersebut menekan harga minyak lebih dari USD5 per barel pada awal perdagangan Asia.
Perhatian pasar ke depan
Selain data domestik, pasar juga fokus pada prospek kebijakan suku bunga The Fed dan rangkaian data ketenagakerjaan AS pekan ini. Investor tetap berhati-hati setelah beberapa pejabat The Fed mengingatkan bahwa inflasi masih terlalu tinggi.
"Para investor tetap bersikap hati-hati setelah tiga pejabat the Fed, dalam rapat kebijakan pekan lalu, kembali menegaskan inflasi masih terlalu tinggi,"
Rangkaian data AS yang dinanti meliputi:
- Data JOLTS (lowongan kerja)
- Laporan penggajian sektor swasta ADP
- Klaim tunjangan pengangguran mingguan
- Laporan tenaga kerja nonfarm payrolls pada Jumat
Hasil data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi pasar mengenai arah suku bunga The Fed selanjutnya dan potensi volatilitas pada pasar mata uang global.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Sertifikasi Halal Jadi Modal UMKM Bangun Kepercayaan Konsumen
Sertifikasi halal harus dijalankan sebagai komitmen produksi bagi UMKM agar kepercayaan konsumen terjaga; pr...
Peran BUMN Minerba Perlu Diperkuat, Setoran Negara Belum Optimal
Pemerintah diminta memperkuat peran BUMN di sektor minerba karena kekayaan USD4 triliun belum tercermin pada...
Literasi Keuangan Diperkuat untuk Cegah Aktivitas Ilegal
Anis Byarwati minta literasi keuangan diperkuat melalui kolaborasi DPR, OJK, BSI, dan media untuk cegah akti...
Menkop Dorong Koperasi Manfaatkan Dana Bergulir di Borobudur Expo
Menteri Koperasi mendorong pemanfaatan dana bergulir lewat LPDB di Borobudur Expo 17-20 Sept 2026 untuk memp...
Harga Emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Naik 19 Sept 2026
Harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian naik pada 19 Sept 2026, masing-masing Rp16.000 dan Rp15.000 per gra...
Harga Emas Antam Naik Rp15 Ribu, Menguat Empat Hari Beruntun
Harga emas Antam naik Rp15.000 menjadi Rp2.638.000/gram pada 19 September 2026, memperpanjang penguatan empa...