Rupiah Kembali Melemah, Ditutup Rp18.111 per Dolar
Rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan, ditutup di sekitar Rp18.111 per dolar AS pada 30 Juli 2026, dipengaruhi oleh keputusan the Fed dan ketegangan geopolitik.
Penutupan pasar dan pergerakan
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah turun 0,21 persen atau sekitar 38 poin ke posisi Rp18.111 per USD. Pada perdagangan sore, tercatat fluktuasi; rupiah sempat menguat 15 poin ke level Rp18.114 dari penutupan sebelumnya Rp18.073, namun akhirnya melemah sekitar 41 poin saat penutupan sesi.
Faktor eksternal: keputusan The Fed dan geopolitik
Keputusan The Fed mempertahankan kisaran suku bunga masih menjadi sentimen utama. Analis pasar menyebut hasil voting yang terpecah memberikan sinyal ketidakpastian bagi pasar global.
"The Fed mempertahankan Suku Bunga Dana Federal dalam kisaran target saat ini antara 3,50 persen dan 3,75 persen. Namun, dengan suara terpecah 9 banding 3, karena tiga anggota FOMC memilih untuk menaikkan suku bunga," kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi.
Ketegangan di Timur Tengah juga menambah tekanan. Konflik antara AS-Iran dan Arab Saudi-Houthi semakin memanas. Kelompok Houthi menerapkan blokade laut di Selat Bab el-Mandeb, sehingga hanya kapal-kapal Tiongkok yang diizinkan melintas, menimbulkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi dan logistik.
Faktor domestik: perlambatan ekonomi dan risiko fiskal
Di dalam negeri, proyeksi pertumbuhan kuartal II 2026 turun menjadi 4,8–4,9 persen, jauh di bawah pertumbuhan kuartal I sebesar 5,61 persen. Ekonom menilai perlambatan ini terkait kenaikan biaya produksi akibat kondisi global serta pengetatan kebijakan moneter dan ketidakpastian fiskal.
"Perlambatan ini dipicu tekanan dari tingginya biaya produksi akibat gejolak global. Termasuk pengetatan kebijakan moneter dan ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri," ujar Ibrahim.
Untuk keseluruhan 2026, proyeksi pertumbuhan berada di kisaran 4,9–5,1 persen, yang masih di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen.
Data domestik yang dinantikan pasar
Pelaku pasar kini mengamati beberapa rilis data penting pekan depan yang berpotensi mempengaruhi rupiah:
- Data inflasi Juli
- Data perdagangan bulan Mei
- Cadangan devisa
- PDB kuartal II
- Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK)
Outlook singkat
Sentimen eksternal dan risiko domestik diperkirakan akan menjaga volatilitas rupiah dalam jangka pendek. Pasar juga mengawasi perkembangan kepemimpinan Bank Indonesia, tekanan fiskal daerah, dan kebijakan ekspor mineral yang dapat memengaruhi arus modal dan nilai tukar.
Secara teknikal, untuk perdagangan berikutnya rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan rentang sekitar Rp18.110–Rp18.160.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Sertifikasi Halal Jadi Modal UMKM Bangun Kepercayaan Konsumen
Sertifikasi halal harus dijalankan sebagai komitmen produksi bagi UMKM agar kepercayaan konsumen terjaga; pr...
Peran BUMN Minerba Perlu Diperkuat, Setoran Negara Belum Optimal
Pemerintah diminta memperkuat peran BUMN di sektor minerba karena kekayaan USD4 triliun belum tercermin pada...
Literasi Keuangan Diperkuat untuk Cegah Aktivitas Ilegal
Anis Byarwati minta literasi keuangan diperkuat melalui kolaborasi DPR, OJK, BSI, dan media untuk cegah akti...
Menkop Dorong Koperasi Manfaatkan Dana Bergulir di Borobudur Expo
Menteri Koperasi mendorong pemanfaatan dana bergulir lewat LPDB di Borobudur Expo 17-20 Sept 2026 untuk memp...
Harga Emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Naik 19 Sept 2026
Harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian naik pada 19 Sept 2026, masing-masing Rp16.000 dan Rp15.000 per gra...
Harga Emas Antam Naik Rp15 Ribu, Menguat Empat Hari Beruntun
Harga emas Antam naik Rp15.000 menjadi Rp2.638.000/gram pada 19 September 2026, memperpanjang penguatan empa...