Rupiah Masih Melemah Meski Inflasi AS Terindikasi Melambat
Rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis, 13 Agustus 2026 meski data inflasi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan. Mata uang Garuda dibuka turun tipis 0,03 persen atau 6 poin ke level Rp17.883 per dolar AS, setelah pada penutupan Rabu berada di Rp17.877 per dolar AS.
Pembukaan pasar dan pergerakan awal
Nilai tukar rupiah bergerak melemah di awal sesi perdagangan. Pembukaan turun tipis ini menandai berlanjutnya sentimen hati-hati di pasar valuta. Para pelaku pasar sempat memperkirakan rupiah bisa menguat setelah rilis data inflasi AS, namun pergerakan akhirnya tetap melemah.
Data inflasi AS: melambat, namun tetap ada inflasi bulanan
Analis mencatat bahwa rilis data menunjukkan Consumer Price Index untuk Juli melambat secara tahunan. Angka tahunan tercatat 3,4 persen, turun dari 3,5 persen pada Juni. Namun secara bulanan, tercatat inflasi 0,1 persen setelah sebelumnya terjadi deflasi 0,4 persen.
Penurunan laju inflasi tahunan dianggap sejalan dengan meredanya tekanan pasokan minyak akibat perkembangan geopolitik. Meski demikian, kenaikan harga bulanan menandakan tekanan harga masih muncul di beberapa sektor.
Faktor domestik dan proyeksi harian
Dari domestik, beberapa kebijakan indeks saham turut memengaruhi sentimen pasar. Kebijakan terkait peninjauan indeks dinilai belum membawa perubahan besar yang memicu aliran modal signifikan.
"Data inflasi AS kembali termoderasi," ujar Lukman Leong, Analis Pasar Uang di Doo Financial Futures, Kamis, 13 Agustus 2026.
"Dari domestik, MSCI mempertahankan kebijakan pembekuan indeks Indonesia. Kebijakan itu tidak disertai penghapusan besar-besaran seperti pada tinjauan sebelumnya," tambah Lukman.
Lukman memperkirakan penguatan rupiah akan tetap terbatas di tengah ketidakpastian prospek perdamaian di Timur Tengah. Ia memproyeksikan nilai tukar bergerak di rentang Rp17.800–Rp17.900 per dolar AS hari ini.
Indeks dolar dan data berikutnya
Saat ini, indeks dolar AS bergerak naik di sekitar level 100. Para pelaku pasar sekarang menunggu rilis data Indeks Harga Produsen AS selanjutnya untuk menguji momentum inflasi lebih lanjut.
Dengan kombinasi data global dan sentimen domestik, rupiah berpotensi mengalami volatilitas lanjutan sampai ada kepastian lebih jelas dari prospek geopolitik dan rilis data ekonomi AS berikutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
KAI Commuter Terapkan Tarif Rp8 Seluruh Area Layanan 17 Agustus
KAI Commuter berlakukan tarif Rp8 pada 17 Agustus 2026 di seluruh area layanan, proyeksi 925.000 pengguna Ja...
Bappebti Rilis Rating 67 Pialang Berjangka Triwulan II 2026
Bappebti mempublikasikan rating 67 pialang berjangka triwulan II-2026 untuk meningkatkan kualitas, tata kelo...
Calon Pembeli Saudi Tinjau Tekstil RI, Potensi Transaksi Rp8,26 Miliar
Calon pembeli Arab Saudi meninjau pabrik tekstil RI (3-6 Aug 2026), menimbang pasokan abaya dan kerudung den...
Kementerian UMKM Perkuat Integrasi SAPA UMKM
Kementerian UMKM menggalang sinergi lintas kementerian untuk mengintegrasikan SAPA UMKM, platform layanan te...
Rupiah Tertekan Isu Geopolitik dan Utang Pemerintah
Rupiah melemah 0,09% ke Rp17.877 pada 12 Agustus 2026, terdorong ketegangan geopolitik dan naiknya utang pem...
Kemendag Gandeng Ritel Modern Perluas Akses Pasar UMKM
Kemendag luncurkan Pojok PPPB dan jalin sinergi dengan ritel modern untuk memperluas akses pasar UMKM pangan...