Rupiah Melemah ke Rp17.917 Meski BI Pertahankan Suku Bunga
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,16 persen atau 29 poin menjadi Rp17.917 per dolar AS pada perdagangan Rabu, 22 Juli 2026, meski Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen. Pasar menilai kebijakan BI kurang mampu menahan tekanan eksternal yang meningkat.
Penutupan pasar dan reaksi terhadap kebijakan BI
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah bergerak melemah sepanjang hari dan berakhir di level Rp17.917 per dolar AS. Pengumuman BI tentang suku bunga tidak memicu respons positif dari pelaku pasar. BI menyatakan mempertahankan suku bunga untuk menjaga stabilitas makro.
BI juga mendorong langkah kebijakan lain berupa insentif untuk menarik arus modal asing ke pasar uang domestik sebagai upaya stabilisasi nilai tukar.
“BI mendorong kebijakan lain, yakni pemberian insentif guna mendorong arus modal asing masuk ke pasar uang Indonesia. Kebijakan ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.”
Faktor eksternal yang menekan rupiah
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebutkan faktor eksternal menjadi tekanan utama pada rupiah. Konflik antara AS dan Iran kembali memanas dan mengganggu sentimen global.
“AS sudah 11 hari berturut-turut melakukan serangan sejumlah lokasi di Iran. Sedangkan Tehran melakukan serangan balasan ke lokasi militer AS di kawasan Teluk, seperti di Bahrain, Kuwait dan Yordania.”
Ketegangan itu diperparah oleh ancaman kelompok Houthi di Yaman yang mengatakan akan menutup perairan mereka. Penutupan jalur pelayaran dan tindakan Iran menutup Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan minyak.
“Beberapa kapal tanker minyak terpaksa mengubah rute pelayarannya.”
Ekspektasi The Fed dan dampak pada pasar
Ibrahim menambahkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed juga menguat. Kenaikan ekspektasi tersebut didorong oleh harga minyak yang tinggi akibat gangguan pasokan global.
“Menguatnya ekspektasi pasar didorong oleh harga minyak dunia yang tinggi karena gangguan pasokan. Harga minyak yang tinggi dikhawatirkan mendorong kenaikan inflasi, sehingga suku bunga diperkirakan tetap tinggi dalam waktu lebih lama.”
Data dari Prime Terminal yang dikutip Ibrahim menunjukkan probabilitas 78 persen bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil. Sementara probabilitas kenaikan suku bunga pada September tercatat sekitar 68 persen.
Prospek dan implikasi
Tekanan eksternal dan prospek suku bunga global mengindikasikan volatilitas yang masih berisiko pada nilai tukar rupiah. Kebijakan insentif dari BI ditujukan untuk meredam aksi jual dan mendorong aliran modal asing ke pasar uang domestik.
Pelaku pasar akan terus memantau perkembangan konflik di Timur Tengah dan pernyataan kebijakan dari The Fed untuk menentukan arah rupiah ke depan.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Command Center KAI Studi Banding ke CC121 untuk Tingkatkan Layanan
Command Center KAI melakukan studi banding ke CC121 pada 17 Juli 2026 untuk memperkuat kompetensi personel d...
Tarif Rp0 untuk Pencatatan Lagu Perkuat Tata Kelola Royalti
Pemerintah menghapus tarif pencatatan hak cipta lagu menjadi Rp0 efektif 1 Agustus 2026 untuk memperkuat bas...
IHSG Melemah ke 6.324, Sektor Kesehatan Tekan Pasar
IHSG ditutup melemah 0,24% ke 6.324,57 pada 22 Juli 2026; sektor kesehatan menekan pasar sementara rupiah me...
Mendag Pacu Pengesahan FTA Indonesia-EAEU dan Tiga Perjanjian ASEAN
Mendag dorong pengesahan empat perjanjian perdagangan termasuk Indonesia-EAEU FTA untuk memperluas akses pas...
Bapanas: Harga Telur dan Ayam Broiler Mulai Pulih
Bapanas menyatakan harga telur dan ayam broiler di tingkat peternak mulai pulih sejak 21 Juli 2026, mendukun...
Dana Bergulir Dongkrak Ekosistem Usaha BMT THS Lombok
LPDB Koperasi menyalurkan dana bergulir dan pendampingan yang membantu BMT THS Lombok membangun ekosistem us...