Rupiah Melemah ke Rp17.744 per Dolar Saat Penutupan
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,15 persen ke Rp17.744 per dolar AS pada Senin, 25 Mei 2026. Pelemahan ini dipicu oleh sentimen geopolitik dan sinyal kenaikan suku bunga dari luar negeri, sekaligus kekhawatiran kondisi domestik.
Angka penutupan dan perbandingan kawasan
Mengacu data pasar keuangan, rupiah turun 27 poin menjadi Rp17.744 per dolar AS. Mata uang domestik termasuk salah satu yang masih berada di zona merah dibandingkan mata uang regional.
Sementara itu beberapa mata uang negara tetangga justru menguat, antara lain ringgit Malaysia +0,29 persen, baht Thailand +0,71 persen, dan peso Filipina +0,52 persen.
Faktor eksternal: ketegangan AS-Iran dan sinyal The Fed
Pelaku pasar memperhatikan perkembangan kesepakatan perdamaian antara AS dan Iran, yang dipandang belum menemui titik temu. Analis mencermati beberapa isu sensitif yang mengganjal pembicaraan.
“Dari luar negeri, pelaku pasar menunggu kelanjutan kesepkatan perdamaian antara AS-Iran. Namun kesepakatan itu sepertinya tidak akan ditandatangani Iran, dan upaya perdamaian akan kembali gagal total.”
Selain itu, pejabat bank sentral AS memberi sinyal akan menaikkan suku bunga jika inflasi kembali melesat. Pernyataan tersebut disampaikan oleh beberapa pejabat, termasuk komentar dari Ketua The Fed yang baru.
“Warsh menyatakan tidak naif dengan tantangan inflasi yang dihadapinya.Kemungkinan besar Warsh akan menaikkan suku bunga jika inflasi masih tinggi.”
Sentimen ini membuat investor menilai aset berisiko lebih tinggi, sehingga mata uang seperti rupiah mengalami tekanan.
Agenda data ekonomi yang dipantau
Pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi AS pekan ini, yang berpotensi mempengaruhi ekspektasi suku bunga.
- Data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026
- Data perumahan
- Indeks harga pengeluaran untuk konsumsi pribadi (PCE)
Faktor domestik dan prospek ke depan
Di dalam negeri, kekhawatiran pasar terhadap defisit anggaran tetap menjadi sentimen negatif. Kebijakan terkait ekspor komoditas melalui badan khusus juga menuai kritik dari lembaga pemeringkat internasional.
“Kebijakan-kebijakan pemerintah yang kurang pro pasar, juga akan mendorong pelemahan rupiah.”
Analis memperkirakan tekanan kebijakan dan risiko penurunan peringkat oleh lembaga seperti S&P Global dapat memperberat pelemahan rupiah pada periode mendatang.
Pemantauan ketat terhadap perkembangan geopolitik, keputusan suku bunga AS, serta kebijakan fiskal domestik akan menentukan arah rupiah dalam beberapa pekan ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...
IHSG Diprakirakan Konsolidasi Menjelang Data Inflasi 1 Okt 2026
Pelaku pasar menunggu data inflasi BPS (1 Okt 2026); IHSG diperkirakan konsolidasi di kisaran 6.000-6.200 se...