BI Kembangkan LCT ke Arab Saudi dan Negara Mitra Lain
Bank Indonesia mengumumkan rencana pengembangan penggunaan Local Currency Transaction (LCT) ke sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, menyusul lonjakan volume transaksi sampai April 2026. Pengumuman disampaikan pada kegiatan BI di Makassar, 22-24 Mei 2026, dengan tujuan mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara.
Kenaikan transaksi dan peserta
BI mencatat peningkatan signifikan transaksi LCT pada periode awal 2026. Sampai April 2026, total transaksi mencapai USD 22,61 miliar, naik 309 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
| Periode | Volume LCT (USD) | Persentase Kenaikan |
|---|---|---|
| Jan-Apr 2025 | 7,33 miliar | - |
| Jan-Apr 2026 | 22,61 miliar | +309% |
Jumlah pelaku yang aktif menggunakan LCT juga bertambah, mencapai 5.265 peserta per bulan pada 2026. BI menilai kenaikan ini sebagai indikator dampak positif penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan.
Mitra utama dan rencana ekspansi
Hingga kini, Indonesia telah memakai LCT dengan beberapa mitra utama. Distribusi transaksi menurut negara menunjukkan dominasi satu mitra terbesar.
| Negara Mitra | Distribusi (%) |
|---|---|
| Tiongkok | 89% |
| Jepang | 6% |
| Malaysia | 3% |
Saat ini kemitraan LCT sudah berjalan dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, Thailand, dan Uni Emirat Arab. BI menyatakan akan memperluas implementasi LCT ke Singapura, India, dan Arab Saudi.
Manfaat dan alasan kebijakan
Menurut BI, penggunaan LCT bertujuan mendiversifikasi eksposur mata uang dan menekan biaya transaksi. BI menekankan bahwa tidak semua transaksi harus menggunakan dolar AS jika dapat diselesaikan dalam mata uang domestik.
Penggunaan LCT mendorong diversifikasi mata uang, bahwa tidak semua transaksi itu harus menggunakan dolar AS. Bukannya enggak mau pake dolar AS, tapi untuk negara-negara yang transaksinya bisa langsung dengan domestik, kenapa harus pakai dolar?
Kalau pakai dolar dulu, transaksinya jadi muter-muter. Kalau sudah muter-muter pasti ada middleman, dan transaksinya jadi tidak efisien.
BI menyatakan manfaat lain termasuk pengembangan pasar mata uang lokal di tingkat regional dan perluasan akses partisipasi pelaku pasar.
Respon pelaku pasar
Pelaku perbankan mendukung langkah BI memperluas LCT. Kepala Ekonomi sebuah bank menilai penggunaan LCT perlu digalakkan lebih luas, tidak hanya di dalam negeri tapi juga melalui bank sentral mitra.
Saya juga menyuarakan LCT, penggunaannya harus lebih digalakan. Karena kita sudah berkoar-koar di dalam, tapi bank sentral negara lainnya mungkin kurang berkoar ke stakeholder mereka.
Prospek ke depan
Dengan volume dan peserta yang meningkat, BI akan melanjutkan upaya perluasan LCT ke negara-negara yang telah disebutkan. Langkah ini diharapkan memperkaya pilihan mata uang transaksi, menurunkan ketergantungan pada dolar AS, dan mendorong efisiensi biaya perdagangan regional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...
IHSG Diprakirakan Konsolidasi Menjelang Data Inflasi 1 Okt 2026
Pelaku pasar menunggu data inflasi BPS (1 Okt 2026); IHSG diperkirakan konsolidasi di kisaran 6.000-6.200 se...