Rupiah Melemah, Dibuka di Rp17.921 Jelang Sentimen Global
Rupiah kembali melemahRp17.921 per dolar AS. Pelemahan terjadi di tengah kenaikan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik, meski sentimen domestik mulai membaik.
Pembukaan dan pergerakan awal
Pembukaan perdagangan menunjukkan rupiah turun tipis 0,02 persen dari posisi sebelumnya. Pada penutupan Rabu, rupiah tercatat pada Rp17.917 per dolar AS, turun 0,16 persen dari penutupan sehari sebelumnya. Pergerakan awal berstatus hati-hati, dengan rentang yang masih relatif sempit.
Faktor pendorong pelemahan
Analisis pasar menunjuk kenaikan harga minyak sebagai salah satu pendorong utama. Analis pasar dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan masih berlanjut meski terbatas.
"Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS hari ini di tengah harga minyak yang kembali naik,"
"Nilai tukar rupiah hari ini diprakirakan akan bergerak di rentang Rp17.850-Rp18.000 per dolar AS,"
Selain faktor eksternal, ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi suku bunga global yang tetap tinggi turut menekan peluang penguatan rupiah.
Sentimen domestik dan peran imbal hasil
Meski demikian, ada indikasi perbaikan sentimen domestik yang membatasi tekanan ke pelemahan lebih dalam. Analis dari Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, menyoroti dinamika indeks dolar AS dan kondisi pasar domestik.
"Indeks dolar AS sudah turun ke 101,11 dari 101,17 tapi rupiah masih di kisaran Rp17.917 per dolar AS,"
Kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) juga memengaruhi aliran modal. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik menjadi 7,30 persen, sementara tenor 2 tahun meningkat menjadi 7,08 persen.
"Kondisi ini mempertahankan daya tarik imbal hasil aset rupiah,"
Lonjakan imbal hasil tersebut membuat spread antara SBN dan obligasi AS tenor 10 tahun melebar, yang pada gilirannya membantu menjaga minat investor pada aset berdenominasi rupiah.
Proyeksi dan risiko ke depan
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang yang diperkirakan oleh analis, yakni antara Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS. Risiko yang perlu diwaspadai termasuk fluktuasi harga komoditas global dan perkembangan geopolitik yang dapat memperkuat dolar AS.
Perkembangan kebijakan moneter global dan data ekonomi mendatang akan menjadi penentu arah rupiah selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...