Kemenperin Tegaskan Kepatuhan Pelaporan SIINas
Kementerian Perindustrian menegaskan pentingnya kepatuhan perusahaan industri menyampaikan data berkala melalui SIINas. Pernyataan itu disampaikan pada Rapat Pimpinan Kemenperin di Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026, setelah evaluasi menunjukkan masih banyak pelaporan yang belum diperbarui. Kemenperin menilai data mutakhir diperlukan untuk merumuskan kebijakan industri yang pro-bisnis dan tepat sasaran.
Kepatuhan pelaporan SIINas
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif, menyatakan masih ditemukan pelaku industri yang tidak memperbarui laporan berkala. Selain itu, ada indikasi penginputan data diserahkan kepada pihak ketiga atau konsultan, yang dikhawatirkan menurunkan akurasi data.
"Kami mencatat masih banyak pelaku industri yang tidak memperbarui laporan berkala mereka di SIINas. Bahkan, kami menemukan indikasi bahwa penginputan data di lapangan masih ada yang diserahkan kepada pihak ketiga atau konsultan,"
Menurut Febri, data riil dari pelaku usaha menjadi dasar bagi Kemenperin untuk memberikan dukungan, perlindungan, dan kebijakan insentif yang sesuai kebutuhan industri.
Sanksi dan insentif
Kemenperin akan menerapkan pendekatan stick and carrot untuk mendorong kedisiplinan pelaporan. Perusahaan yang patuh dan rutin memperbarui data berpeluang mendapat prioritas fasilitasi layanan dan pembinaan pemerintah. Sebaliknya, ketidakpatuhan akan dikaji lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.
Penolakan Sensus Ekonomi 2026
Rapim juga menyoroti sejumlah perusahaan industri yang menolak berpartisipasi dalam Sensus Ekonomi 2026 yang dilaksanakan oleh BPS. Kemenperin menyatakan telah mengantongi data perusahaan yang menolak didata.
"Kemenperin telah menerima data perusahaan yang menolak pendataan sensus tersebut. Kami menilai sikap penolakan ini menunjukkan ketidakpatuhan (non-compliance) terhadap regulasi yang berlaku,"
Febri mengingatkan bahwa partisipasi dalam sensus diatur oleh Undang-Undang dan merupakan kewajiban hukum. Menteri Perindustrian kemudian menginstruksikan unit pembina industri untuk melakukan pembinaan pada perusahaan yang menolak, agar memahami kewajiban dan memberikan data yang valid.
Percepatan digitalisasi dan regulasi
Kemenperin terus mempercepat digitalisasi sektor industri melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas). Berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 13 Tahun 2025, setiap perusahaan dan kawasan industri wajib menyampaikan data berkala melalui platform ini.
Data yang dilaporkan meliputi:
- Identitas perusahaan
- Kapasitas produksi
- Tenaga kerja
- Bahan baku
- Realisasi produksi
Kemenperin menegaskan kembali imbauan kepada seluruh pelaku industri untuk bersikap terbuka dan kooperatif pada petugas sensus, karena data tersebut menjadi fondasi kebijakan demi pertumbuhan industri nasional berkualitas berkelanjutan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...