Rupiah Melemah ke Rp17.903 per Dolar pada Pembukaan 3 Juni
Rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu, 3 Juni 2026. Pada pukul 09.30 WIB nilai tukar tercatat di Rp17.903 per dolar AS, turun 0,36 persen atau 64 poin dari penutupan sebelumnya.
Pergerakan pasar pagi ini
Depresiasi rupiah terpantau sejak awal perdagangan dan menandai pelemahan yang cukup signifikan. Kondisi ini menurut analis menunjukkan penguatan awal bulan yang masih rapuh dan mudah berbalik arah.
“Rupiah masih sulit terapresiasi, penguatan pada awal Juni masih rapuh,”
kata Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, yang menyoroti kerentanan nilai tukar terhadap pembalikan aliran modal asing.
Tekanan aliran modal dan data pasar domestik
Salah satu faktor penekan adalah keluarnya modal dari pasar saham. Pada Selasa, 2 Juni 2026, tercatat aliran keluar asing di pasar saham mencapai Rp1,37 triliun. Tekanan tersebut meningkatkan risiko pelemahan lebih lanjut jika sentimen negatif berlanjut.
Sentimen global dan risiko geopolitik
Sentimen eksternal ikut memengaruhi nilai tukar. Analis Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, masih melihat peluang apresiasi tipis rupiah jika perkembangan geopolitik mereda.
“Misalnya pernyataan Presiden AS, Donald Trump, bahwa Israel dan Hizbullah akan menghentikan tindakan saling serang,”
Namun Fikri juga mencatat adanya peningkatan ketidakpastian setelah Iran menyatakan menghentikan negosiasi dengan AS, serta menambahkan syarat penghentian serangan di Gaza dan Lebanon.
Imbal hasil AS dan neraca perdagangan
Di pasar obligasi, imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun turun menjadi 4,44 persen dari 4,68 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh harapan damai yang masih rapuh di kawasan Timur Tengah.
Secara fundamental domestik, neraca perdagangan Indonesia tetap mencatat surplus hingga April 2026, meski nilainya menyusut. Surplus ini menandai rekor 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Prospek ke depan
Secara keseluruhan, rupiah diperkirakan tetap rentan dalam jangka pendek. Faktor penentu selanjutnya adalah aliran modal asing dan perkembangan geopolitik internasional. Investor akan terus memantau data perdagangan dan pergerakan imbal hasil global untuk menilai arah nilai tukar dalam beberapa hari mendatang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PT Vale Luncurkan Kelas Konservasi untuk Duta Lingkungan
PT Vale meluncurkan Kelas Konservasi di Luwu Timur untuk melatih 50 pelajar menjadi duta lingkungan selama J...
Sandiaga Investasi di Mutuagung Lestari, Bidik Bisnis Sertifikasi
Sandiaga Uno investasikan pada PT Mutuagung Lestari untuk memperkuat layanan sertifikasi yang mendukung daya...
Regulasi dan Insentif Fiskal Kunci Pengembangan Industri Menengah
Regulasi jelas dan jaminan insentif fiskal dinilai penting untuk mempercepat pengembangan industri menengah...
Bisnis Kopi Solo Melaju Seiring Perubahan Gaya Hidup
Bisnis kopi di Solo berkembang karena gaya hidup, wisata, dan inovasi UMKM; peluang besar bagi kedai lokal y...
Harga Emas Antam Turun Tajam ke Rp2.605.000/gram
Harga emas Antam 24 Juli 2026 turun ke Rp2.605.000/gram, minus Rp35.000; buyback Rp2.345.000/gram. Ketentuan...
INALUM Buka Program Magang, Ajak Talenta Muda Belajar di Industri
INALUM membuka program magang untuk talenta muda belajar langsung di industri nasional, memperkuat keterampi...