Hari Pasar Modal Indonesia: Sejarah dan Peran Sejak 3 Juni 1977
Hari Pasar Modal Indonesia diperingati setiap 3 Juni untuk memperingati reaktivasi pasar modal nasional pada 3 Juni 1977 di Jakarta. Perayaan ini mengenang kembalinya aktivitas bursa yang sempat berhenti puluhan tahun, sekaligus menandai titik awal perkembangan pasar modal modern di Indonesia.
Awal mula pasar modal di Indonesia
Jejak pasar modal di Indonesia bermula pada masa kolonial Belanda, ketika pada 1912 didirikan bursa efek pertama di Batavia. Bursa ini hadir untuk memfasilitasi perdagangan surat berharga perusahaan Belanda, dan aktivitasnya kemudian menyebar ke Surabaya dan Semarang.
Perdagangan efek mengalami jeda panjang karena Perang Dunia I, krisis ekonomi global, dan kemudian Perang Dunia II. Setelah kemerdekaan 1945, perhatian pemerintah lebih tertuju pada pembangunan dan stabilitas, sehingga pasar modal belum berjalan optimal.
Reaktivasi pada 3 Juni 1977
Pembukaan kembali pasar modal nasional menjadi tonggak penting pada 3 Juni 1977. Pemerintah mengaktifkan kembali Bursa Efek Jakarta yang saat itu dikelola oleh Badan Pelaksana Pasar Modal (Bapepam). Peristiwa ini kemudian menjadi dasar penetapan Hari Pasar Modal setiap 3 Juni.
Pada tahap awal reaktivasi, jumlah perusahaan tercatat masih sangat terbatas. PT Semen Cibinong tercatat sebagai emiten pertama yang mencatatkan sahamnya pada 1977.
Deregulasi dan percepatan pada akhir 1980-an
Pertumbuhan pasar modal mulai nyata setelah pemerintah mengeluarkan serangkaian paket deregulasi pada akhir dekade 1980-an. Paket Desember 1987 (Pakdes 1987), Paket Oktober 1988 (Pakto 1988), dan Paket Desember 1988 membuka akses perusahaan untuk melakukan penawaran umum perdana.
Kebijakan ini mempermudah mekanisme IPO dan mendorong minat masyarakat berinvestasi. Dampaknya terlihat pada peningkatan jumlah emiten dan investor sepanjang dekade 1990-an.
Penggabungan menjadi Bursa Efek Indonesia
Pada 2007, Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya resmi digabung menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI). Langkah ini bertujuan meningkatkan efisiensi perdagangan dan memperkuat daya saing pasar modal nasional.
Sejak penggabungan, seluruh aktivitas perdagangan efek dilakukan melalui BEI sebagai pusat perdagangan efek nasional.
Peran pasar modal dan instrumen investasi
Pasar modal berfungsi sebagai sarana penghimpunan dana jangka panjang bagi perusahaan dan pemerintah. Melalui pasar modal, perusahaan mendapat modal untuk ekspansi, sedangkan masyarakat mendapatkan wadah berinvestasi secara legal.
- Saham
- Obligasi
- Reksa dana
- Exchange Traded Fund (ETF)
- Real Estate Investment Trust (REIT)
- Surat Berharga Negara
Peringatan, literasi, dan prospek ke depan
Peringatan Hari Pasar Modal menjadi momen bagi BEI, Otoritas Jasa Keuangan, dan pelaku industri untuk menggiatkan literasi keuangan. Berbagai kegiatan edukasi ditujukan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang instrumen investasi dan tata kelola pasar.
Dengan pertumbuhan investor setiap tahun, pasar modal terus berkembang menjadi pilar penting perekonomian nasional. Ke depan, peningkatan literasi, transparansi, dan tata kelola menjadi kunci untuk memperkuat daya saing pasar modal Indonesia.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...
IHSG Melemah 0,83% ke 6.020 pada Sesi I (1 Okt 2026)
IHSG turun 0,83% ke 6.020,69 pada sesi I (1 Okt 2026), terdorong volatilitas global dan penyesuaian portofol...
Rupiah Kembali Melemah, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp18.000
Rupiah melemah ke Rp17.919 per dolar AS pada pembukaan 1 Okt 2026; analis sebut rentan tembus Rp18.000 jika...