Rupiah Anjlok pada Penutupan 17 Sept, Tekanan Konflik dan Suku Bunga
Rupiah jatuh pada penutupan perdagangan Jumat, 17 September 2026, turun 0,32 persen atau 57 poin menjadi Rp17.753 per dolar AS. Pelemahan dipicu kombinasi faktor internasional dan domestik, termasuk perkembangan konflik di Timur Tengah serta ekspektasi suku bunga global.
Pergerakan Nilai Tukar
Pada sesi penutupan, rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar AS meski belum mencapai tekanan ekstrem. Penurunan 0,32 persen tercatat setelah serangkaian berita geopolitik dan sinyal kebijakan moneter yang mempengaruhi arus modal.
Tekanan Internasional
Konflik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi faktor utama. Ada informasi soal potensi dialog antara pihak-pihak terkait, namun ketegangan masih berimbas pada lalu lintas energi di Selat Hormuz.
Di samping itu, kebijakan suku bunga di negara maju turut menambah ketidakpastian pasar. Klaim pihak asing tentang adanya upaya kesepakatan damai juga belum meredakan kekhawatiran terhadap pasokan energi.
Faktor Domestik: Kebijakan dan Ekspektasi
Di dalam negeri, pasar mengamati kebijakan fiskal dan figur baru di pemerintahan. Suahasil Nazara sebagai menteri keuangan baru menegaskan komitmen menjaga keuangan negara dan memanfaatkan APBN untuk mendorong pertumbuhan.
Selain itu, pelaku pasar menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG) yang dijadwalkan Rabu pekan depan. Hasil RDG akan menjadi penentu arah kebijakan moneter jangka pendek.
Pandangan Analis
Analis pasar uang menilai ruang bagi Bank Indonesia untuk kembali menaikkan suku bunga mulai menyempit. Langkah kebijakan sebelumnya dinilai telah bersifat agresif dan memberi perlindungan bagi stabilitas makro.
"Ruang bagi BI untuk kembali mengerek suku bunga acuan tampak semakin menyempit,"
"Manuver BI yang telah menaikkan suku bunga hingga 100 basis poin merupakan langkah pre-emptive yang sangat presii. Bahkan melampaui agresivitas bank sentral Amerika Serikat,"
Menurut analis tersebut, penguatan bertahap fundamental makro—meliputi stabilisasi nilai tukar, masuknya kembali modal asing, dan disiplin fiskal—menjadi penyangga bagi bank sentral.
Prospek ke Depan
Ke depan, pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik terbaru dan keputusan kebijakan moneter global. Hasil RDG Bank Indonesia menjadi momen penting bagi pasar untuk menilai kelanjutan strategi suku bunga.
Pelaku pasar dan pengambil kebijakan diperkirakan akan terus memonitor aliran modal, kondisi fiskal, serta dinamika pasokan energi sebagai faktor penentu arah nilai tukar dalam jangka pendek.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
RPOJK Demutualisasi BEI Tunggu Harmonisasi Kementerian Hukum
OJK: RPOJK Demutualisasi BEI sudah harmonisasi dengan Kementerian Hukum dan menunggu penyelesaian sebelum di...
OJK: Penyebab Rendahnya Realisasi IPO Sepanjang 2026
OJK menyebut ketidakpastian geopolitik dan kesiapan emiten sebagai penyebab rendahnya realisasi IPO sepanjan...
IHSG Ditutup Naik 25,59 Poin ke 6.462,43 pada 17 Sept 2026
IHSG ditutup menguat 25,59 poin ke 6.462,43 pada 17 Sept 2026, dipengaruhi kebijakan The Fed, harga minyak,...
OJK Denda ROTI dan BNBR Total Rp1,35 Miliar
OJK menjatuhkan denda Rp1,35 miliar kepada ROTI dan BNBR atas pelanggaran penunjukan KAP dan transaksi mater...
Harga Emas Pegadaian Naik Rp5.000: UBS & Galeri24 (17 Sep 2026)
Harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian naik Rp5.000 per gram pada 17 Sep 2026; UBS Rp2.566.000/gr, Galeri2...
Rupiah Melemah ke Rp17.746 Usai Kenaikan The Fed
Rupiah dibuka melemah ke Rp17.746 per USD pada 17 Sep 2026 setelah The Fed menaikkan suku bunga; pasar menun...