Ekonomi

Rupiah Tembus Rp18.000, BI: Pelemahan Masih Terbatas

Bagikan:
Grafik nilai tukar rupiah menembus level Rp18.000 terhadap dolar AS

Rupiah sudah menembus level Rp18.000 per dolar AS pada hari ini, namun Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan tersebut masih terbatas dan sejalan dengan pergerakan mata uang di kawasan. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, pada Selasa, 29 Agustus 2026.

Peringkat kehati-hatian BI dan dukungan cadangan devisa

BI mencatat pelemahan rupiah secara triwulanan sebesar 0,67 persen. Bank sentral menilai tekanan saat ini masih dalam batas yang terkendali dan didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai.

Pada akhir Agustus 2026, cadangan devisa Indonesia tercatat meningkat menjadi USD146,5 miliar, yang menjadi salah satu penopang stabilitas nilai tukar.

Penyebab pelemahan rupiah

Menurut Erwin, faktor utama pelemahan adalah tekanan global. Kekhawatiran terhadap inflasi dunia dan risiko fiskal mendorong ekspektasi pasar terhadap pengetatan kebijakan moneter di luar negeri.

Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi pemicu tambahan. Harga minyak sudah berada di atas USD108 per barel, dipengaruhi oleh belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan Selat Hormuz antara AS dan Iran.

"Pelemahan nilai tukar dipengaruhi oleh berlanjutnya kekhawatiran atas tekanan inflasi global dan risiko fiskal,"

"Hal itu mendorong ekspektasi pengetatan lebih lanjut kebijakan moneter Amerika Serikat sehingga imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun kembali naik ke level 5,23 persen, tertinggi sejak 2007,"

Faktor teknis dan arus modal

Tekanan pada rupiah juga berasal dari faktor domestik jangka pendek. Menjelang akhir triwulan III, permintaan valas dari importir meningkat. Selain itu, arus keluar dana dari portofolio di negara emerging markets berlanjut seiring naiknya imbal hasil obligasi global.

Langkah BI menjaga stabilitas

BI menegaskan akan terus aktif di pasar untuk memastikan mekanisme berjalan baik dan nilai tukar sesuai fundamental. Bank sentral mengelola pasar uang dengan strategi operasi moneter pro‑market serta menjaga kecukupan likuiditas.

Langkah yang disebutkan BI meliputi:

  • Peningkatan insentif untuk instrumen Swap dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk mendukung pendanaan luar negeri;
  • Intervensi konsisten di transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore dan transaksi spot serta DNDF di pasar domestik;
  • Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menstabilkan pasar.

"BI juga mengelola struktur suku bunga di pasar uang dengan penguatan strategi operasi moneter pro‑market. Efektivitas stabilisasi nilai tukar diperkuat dan kecukupan likuiditas dijaga," ujar Erwin.

Implikasi dan prospek

Dengan cadangan devisa yang kuat dan serangkaian instrumen intervensi, BI berharap dapat meredam volatilitas jangka pendek dan menahan pelemahan lebih dalam. Namun, respons nilai tukar tetap rentan terhadap dinamika harga komoditas global dan kebijakan moneter eksternal.

BI menyatakan akan terus melakukan koordinasi intensif dengan korporasi dan pelaku pasar untuk menjaga stabilitas rupiah.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait