Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp18.027, Tertekan Ketegangan Timur Tengah

Bagikan:
Layar kurs rupiah menunjukkan Rp18.027 per dolar AS di pasar pagi

Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada Selasa, 4 Agustus 2026. Pasar membuka perdagangan dengan pelemahan 0,17 persen sehingga rupiah berada di posisi Rp18.027 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berisiko mendorong harga minyak global naik.

Kondisi pasar pagi ini

Pada penutupan perdagangan Senin, rupiah sempat menguat 0,14 persen ke posisi Rp17.997 per dolar AS. Namun sentimen eksternal berubah pagi ini sehingga mata uang domestik kembali melemah.

Risiko geopolitik dan implikasi kebijakan

Ekonom dari Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai ketegangan di Timur Tengah berpotensi mendorong harga minyak menanjak, yang kemudian memperkuat tekanan terhadap rupiah dan inflasi domestik.

"Meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat mendorong harga minyak dunia kembali menembus USD100 per barel. Sehingga kami memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga kebijakannya dalam jangka pendek."

Rully menyatakan bank sentral masih memiliki ruang untuk satu kali kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin jika tekanan inflasi dan volatilitas rupiah meningkat.

"Apabila tekanan inflasi dan volatilitas Rupiah semakin meningkat,"

Perkiraan analis dan faktor pendukung rupiah

Sementara itu analis pasar uang Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, melihat peluang rupiah menguat hari ini. Ia memproyeksikan nilai tukar masih berpeluang bergerak di bawah level Rp18.000, sekitar Rp17.950 per dolar AS.

"Faktor pendukungnya antara lain defisit neraca perdagangan yang mengecil dan inflasi yang mulai melandai,"

Fikri juga memperkirakan indeks dolar AS akan bergerak melemah di kisaran 99,79-99,89, yang dapat meredam tekanan pada kurs rupiah.

Prospek ke depan

Gabungan tekanan geopolitik, dinamika harga minyak, dan kondisi domestik seperti inflasi serta neraca perdagangan bakal menentukan arah rupiah pekan ini. Bank Indonesia kemungkinan akan tetap waspada terhadap fluktuasi kurs dan tekanan harga, sementara pelaku pasar memantau perkembangan di Timur Tengah dan data ekonomi yang akan dirilis.

Pergerakan rupiah selanjutnya akan bergantung pada perkembangan geopolitik, sinyal kebijakan moneter, dan data perdagangan yang dapat mengubah sentimen investor dalam jangka pendek.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait