Rupiah Melemah ke Rp18.027, Konflik AS-Iran Tekan Pasar
Nilai tukar rupiah bergerak melemah pada Selasa, 4 Agustus 2026, ditutup di Rp18.027 per dolar AS.
Pergerakan rupiah dan pemicu
Menurut data Bloomberg, rupiah turun 0,17 persen atau sekitar 30 poin sepanjang sesi perdagangan hari itu. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah Teheran membantah klaim negosiasi dengan Washington.
“Mereka juga menyebutkan tidak ada pertemuan yang dijadwalkan,”
Keterangan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menanggapi pernyataan Presiden AS. Kondisi geopolitik yang memanas membuat sentimen risiko meningkat dan mendorong permintaan aset aman.
Analisis pasar dan risiko regional
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai eskalasi ini membuat pelaku pasar menghindari aset berisiko. Menurut Ibrahim, Iran bahkan mengancam menargetkan kapal perang AS jika upaya mengubah koridor pelayaran Selat Hormuz terjadi. Hal ini membuat kegiatan transportasi laut melambat karena kapal menghindari jalur tersebut.
Data ekonomi AS yang mempengaruhi sentimen
Sementara itu, indikator ekonomi AS menunjukkan penguatan. Purchasing managers' index (PMI) manufaktur AS naik menjadi 55,6 pada Juli 2026, dari 53,3 pada bulan sebelumnya. Ibrahim menyebutkan:
“Ini menunjukkan permintaan yang berkelanjutan, kejelasan tentang tarif, dan hilangnya gangguan pasokan minyak akibat Perang Teluk.”
Kenaikan PMI tersebut dipandang meningkatkan permintaan tenaga kerja dan turut mempengaruhi ekspektasi kebijakan moneter The Fed.
Cadangan devisa dan kondisi domestik
Di dalam negeri, Ibrahim mencatat cadangan devisa Indonesia per akhir Juli 2026 sebesar USD145 miliar. Jumlah ini turun dibandingkan bulan sebelumnya karena digunakan untuk pembayaran utang luar negeri dan stabilisasi nilai tukar.
Bank Indonesia menyatakan cadangan devisa masih aman dan cukup untuk 5,4 kali impor meski ada penurunan. Menurut standar internasional, batas aman adalah tiga bulan impor dan pembayaran utang.
Data mendatang yang diawasi pasar
Pelaku pasar kini menantikan beberapa rilis data penting yang berpotensi mempengaruhi arah pasar ke depan:
- Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) AS, rilis Selasa 4 Agustus 2026 sekitar pukul 21.00 WIB.
- Data ketenagakerjaan non-pertanian (NFP) AS, rilis Jumat 7 Agustus 2026.
Data tersebut menjadi acuan bagi ekspektasi suku bunga The Fed dan bisa menambah volatilitas pada nilai tukar rupiah jika hasilnya mengejutkan pasar.
Dengan latar geopolitik yang belum mereda dan aliran keluar modal asing yang tercatat signifikan, rupiah diperkirakan akan tetap tertekan sampai ketegangan mereda atau ada sinyal kebijakan yang menenangkan pasar.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...