Rieke Diah: Jangan Lupakan Pengungsi dan Pekerja Migran
Anggota DPR RI Fraksi PDI-Perjuangan Rieke Diah Pitaloka meminta agar penyelenggaraan Piala Dunia 2026 tidak melupakan isu kemanusiaan. Pernyataan itu disampaikan pada Minggu, 14 Juni 2026, sebagai respons atas rencana penyelenggaraan di tiga negara. Rieke menekankan perlunya perhatian pada pengungsi, pekerja migran, dan komunitas miskin di sekitar stadion.
Seruan kemanusiaan di tengah perhelatan besar
Rieke mengatakan gerakan kemanusiaan harus mengiringi setiap pertandingan. Ia berharap momen-momen penting, termasuk tendangan penalti, menjadi momen solidaritas, bukan sekadar tontonan komersial.
"Saya apresiasi, ini terobosan luar biasa, (penyelenggaraan Piala Dunia 2026) di tiga negara, satu semangat. Jangan sampai pesta bola ini melupakan para pengungsi, pekerja migran, dan komunitas miskin di sekitar stadion,"
Harapan kepada FIFA dan panitia
Anggota Komisi XIII itu meminta FIFA dan panitia penyelenggara memberikan perhatian serius pada isu keadilan sosial. Menurut Rieke, fokus tidak boleh hanya pada keuntungan komersial, tetapi juga pada perlindungan hak asasi dan akses bagi kelompok rentan.
"Saya berharap FIFA dan panitia memberikan perhatian serius pada isu keadilan sosial. Jadi, tidak sebatas mencari keuntungan komersial,"
Dukungan untuk tim "kemanusiaan"
Di luar seruan kemanusiaan, Rieke juga mengungkapkan preferensi personal terhadap tim yang dianggap menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Ia menyebut mendukung tim yang menunjukkan sportivitas, menolak rasisme, dan membela hak anak di zona konflik.
"Saya mendukung tim kemanusiaan. Siapa pun yang menjunjung tinggi nilai sportivitas, anti-rasisme, dan membela hak-hak anak di zona konflik,"
Rieke menambahkan bahwa pilihannya kini lebih didasarkan pada nilai moral ketimbang gaya permainan yang indah.
"Dulu waktu sekolah, saya suka Brazil karena gaya bola indah. Sekarang saya lebih suka tim yang indah hati nuraninya,"
Dampak dan prospek
Seruan Rieke membuka diskusi tentang peran acara olahraga internasional dalam mengangkat isu sosial. Jika direspon serius, rekomendasi seperti program bantuan di sekitar stadion, akses layanan untuk pengungsi, dan kampanye anti-rasisme bisa menjadi bagian agenda penyelenggara.
Penting bagi penyelenggara dan stakeholder untuk merancang program yang konkret. Tanpa langkah nyata, kritik soal komersialisasi besar-besaran kemungkinan akan terus mengiringi gelaran olahraga berskala global.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PESONAS II NTT 2026: Ribuan Atlet Tunagrahita Siap Bertanding
PESONAS II NTT 2026 digelar di Kupang (14–18 Okt) dengan 1.128 atlet tunagrahita terdaftar; kontingen dari 2...
Persebaya Hadapi Lima Laga Padat Oktober, Stamina Jadi Kunci
Persebaya hadapi lima laga BRI Super League sepanjang Oktober; fokus pada stamina, recovery, dan rotasi pema...
Cedera Bintang, Indonesia Raih Perak Voli Pantai Asian Games
Bintang cedera saat final voli pantai Asian Games, mengganggu mobilitas pasangan Indonesia sehingga harus pu...
Kroasia vs Inggris: Perebutan Kemenangan Kedua di Nations League
Kroasia menghadapi Inggris di Rijeka, Sabtu 3 Oktober 2026; kedua tim sama-sama memburu kemenangan kedua di...
Kilas Balik 5 Pertemuan Klasik Kroasia vs Inggris Jelang Rijeka
Inggris ke Rijeka lawan Kroasia 4 Okt 2026; kilas balik lima pertemuan klasik menunjukkan rivalitas penuh go...
Coco Gauff Kalahkan Osorio dan Melaju ke Putaran Ketiga China Open
Coco Gauff mengalahkan Camila Osorio 7-6(4), 4-6, 6-2 di China Open 2026 dan lolos ke putaran ketiga; kemena...