Pemerintah Pulihkan 9.931 Hektare Sawah di Sumatra
Pemerintah merehabilitasi 9.931 hektare sawah terdampak bencana hidrometeorologi di tiga provinsi wilayah Sumatra untuk menopang ketahanan pangan nasional. Program ini dipantau langsung oleh Menteri Pertanian dan didukung alokasi dana lebih dari satu triliun rupiah. Upaya pemulihan bertujuan memperbaiki infrastruktur irigasi, mengembalikan produktivitas, dan mendukung swasembada pangan.
Skala pemulihan dan realisasi anggaran
Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) melaporkan target pemulihan seluas 42.702 hektare di tiga provinsi. Sampai 8 Juni 2026, rehabilitasi fisik telah mencapai 9.931 hektare.
Dalam aspek pembiayaan, Satgas PRR mencatat realisasi penyaluran dana bantuan sektor pertanian sebesar Rp877,126 miliar. Anggaran itu difokuskan untuk perbaikan jaringan irigasi serta program optimalisasi lahan terdampak.
Koordinasi kementerian dan satgas
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengawal langsung proses pemulihan di lokasi terdampak. Menurutnya, penanganan lahan pertanian merupakan bagian penting dari rekonstruksi ekonomi masyarakat korban bencana.
"Bapak Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan seluruh jajaran, mulai dari menteri, gubernur, hingga bupati dan wali kota, agar penanganan lahan pertanian terdampak bencana di tiga provinsi berjalan maksimal,"
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatra Muhammad Tito Karnavian mengatakan dokumen rencana induk menjadi acuan untuk pemulihan permanen. Tito menjelaskan koordinasi lintas daerah dan kementerian menjadi kunci pelaksanaan program.
"Sekarang proses menuju pemulihan permanen atau rehab-rekon. Kuncinya adalah renduk yang direkap dari kabupaten, kota, provinsi terdampak, serta kementerian/lembaga. Dokumen ini kemudian disandingkan oleh Bappenas dan dikawal oleh Satgas PRR,"
Prioritas program dan strategi teknis
Rehabilitasi tidak hanya memperbaiki areal fisik, melainkan juga mengarah pada adaptasi perubahan iklim. Pemerintah menekankan pengembangan komoditas pertanian yang adaptif terhadap kondisi lokal.
- Perbaikan jaringan irigasi dan drainase.
- Optimalisasi lahan serta peningkatan kualitas tanah.
- Pengembangan komoditas tahan iklim dan diversifikasi tanaman.
- Penguatan koperasi dan perluasan akses pasar bagi petani.
Jangka waktu dan dampak bagi petani
Seluruh program rekonstruksi fisik direncanakan selesai dalam waktu tiga tahun ke depan. Selain mempercepat pemulihan produksi, program juga menargetkan peningkatan nilai tambah hasil panen melalui akses pasar dan penguatan kelembagaan petani.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap pemulihan lahan pertanian dapat mempercepat pemulihan ekonomi lokal sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
15 Siswa Sekolah Rakyat Tampil di JFC 2026 dengan Karya Daur Ulang
15 siswa Sekolah Rakyat Jember tampil di JFC 2026 (24–26 Juli) memamerkan kostum daur ulang dan mengasah kre...
Uskup Asia Puji Masjid Istiqlal sebagai Simbol Persaudaraan
Kardinal dan uskup FABC menutup Sidang Pleno ke-12 dengan mengunjungi Masjid Istiqlal, simbol persaudaraan l...
Delegasi FABC Kagumi Masjid Istiqlal: Simbol Persaudaraan
Penutupan FABC ke-12 berakhir dengan kunjungan 154 delegasi ke Masjid Istiqlal, menegaskan persaudaraan dan...
Menlu Sugiono Dorong Revitalisasi ARF untuk Hadapi Tantangan Keamanan
Menlu Sugiono mendorong revitalisasi ARF agar lebih responsif terhadap tantangan keamanan kawasan dan menged...
MUI Dorong Zakat Jadi Pengurang Pajak Langsung
MUI mengusulkan zakat diakui sebagai tax credit (pengurang pajak langsung) untuk mencegah beban ganda dan me...
MenPPPA Apresiasi LEGO Playground 2026 di TMII
MenPPPA Arifah Fauzi apresiasi LEGO Playground 2026 di TMII; kegiatan dinilai mendukung hak anak dan perkemb...