PP Parmusi Usulkan 3 Langkah Antisipasi Krisis Politik-Sosial-Ekonomi
Pengurus Pusat Persaudaraan Muslimin Indonesia (PP Parmusi) mengajukan tiga langkah konkret kepada Presiden Joko Widodo terkait potensi terjadinya krisis politik, sosial, dan ekonomi secara bersamaan. Usulan disampaikan oleh Ketum PP Parmusi, Dr. Drs. Ali Amran Tanjung, SH, M.Hum, yang menekankan pentingnya deteksi dini, dialog terbuka, dan tindak tegas terhadap koruptor sebagai prioritas pencegahan.
Tiga langkah antisipasi
Ali Amran merincikan tiga langkah yang dianggap krusial untuk menghindari eskalasi konflik dan kerusakan kepercayaan publik. Pertama, memperkuat sistem deteksi dini berbasis data lapangan yang akurat. Kedua, membuka dialog luas dengan ulama, tokoh masyarakat, mahasiswa, dan pelaku usaha. Ketiga, menindak tegas tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan negara.
"Bapak Prabowo kita ingatkan agar bertindak cepat dan tepat dalam mengantisipasi potensi terjadinya krisis politik, sosial dan ekonomi secara bersamaan,"
Alasan kekhawatiran: sejarah dan risiko
PP Parmusi mengingatkan pengalaman sejarah 1966 dan 1998 yang menunjukkan krisis ekonomi dipadu ketidakpercayaan publik dapat memicu perubahan politik besar. Ali menilai kombinasi krisis ekonomi, komunikasi politik yang buruk, dan gejolak sosial berisiko menimbulkan people power yang mengancam stabilitas pemerintahan.
"Lihat 1966 dan 1998... ketika krisis ekonomi berpadu dengan ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah dan ruang dialog politik tertutup, rakyat turun ke jalan," tegas Ali Amran.
Ancaman terhadap program dan target jangka panjang
Menurut PP Parmusi, gangguan stabilitas akan langsung menghantam target Indonesia Emas 2045. Investasi bisa kabur, pertumbuhan melambat, dan program prioritas seperti hilirisasi serta swasembada pangan mungkin terhenti jika krisis tidak ditangani segera.
Saran operasional untuk pemerintahan
Ali mengusulkan agar deteksi dini tidak hanya mengandalkan laporan birokrasi, melainkan data lapangan yang komprehensif. Dialog harus rutin dan inklusif agar aspirasi tidak menumpuk menjadi kemarahan. Penindakan terhadap koruptor perlu transparan sehingga publik melihat negara hadir untuk rakyat, bukan elite.
Seruan pengawalan konstitusional
Ali juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengawal pemerintahan secara konstitusional. Kritik boleh keras asalkan tidak merusak, dan semua pejabat diminta menjadi "perisai rakyat", bukan beban. Ia menekankan bahwa tujuan bersama adalah mewujudkan Indonesia yang maju, adil, dan sejahtera.
"Penting, pemimpin cepat, rakyat tenang dan negara adil,"
Pernyataan ini disampaikan PP Parmusi setelah pertemuan pengurus di Jakarta yang dihadiri Sekjen PP Parmusi dan sejumlah Wakil Ketua Umum. Rekomendasi mereka menekankan urgensi tindakan cepat agar stabilitas nasional tetap terjaga dan program pembangunan berlanjut.
Berita Terkait
Kejari Medan dan Forwakum Gelar Mini Soccer untuk Pererat Sinergi
Kejari Medan dan Forwakum menggelar mini soccer di Medan, Senin (25/5) malam, untuk mempererat silaturahmi d...
Polda Sumut Gerebek THM Capital Building Medan, Lakukan Swab
Dit Narkoba Polda Sumut menggerebek Capital Building Medan dinihari 26 Mei; pemeriksaan swab tidak menemukan...
Polrestabes Medan Gelar Pra Rekonstruksi di Phantom KTV, 2 Tersangka Diperagakan
Polrestabes Medan menggelar pra rekonstruksi di Phantom KTV, memperagakan 27 adegan dan menemukan narkoba se...
Pemko Medan Pastikan Jaminan Kesehatan Korban Pembegalan
Pemko Medan lewat Perwal Nomor 26/2026 memberi jaminan kesehatan bagi korban pembegalan yang dirawat di RS U...
Sumut Bentuk 6.100 Koperasi Desa Merah Putih, 98% Terintegrasi
Pemprov Sumut membentuk 6.100 Koperasi Desa Merah Putih; 98% terintegrasi SIMKOPDES dan 353 gerai siap berop...
Pematangsiantar Gelar Sosialisasi Akreditasi Perpustakaan 2026
Pematangsiantar menggelar sosialisasi akreditasi perpustakaan 2026 untuk sosialisasi instrumen, standar nasi...