Peternak Kecil Jatim Terjepit Bibit Impor dan Dominasi Integrator
Tuban, 17 Juli 2026 — Anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PDI Perjuangan, Ony Setiawan, menilai peternak kecil di Jawa Timur semakin terjepit oleh ketergantungan bibit impor dan dominasi perusahaan integrator. Kondisi itu terjadi karena pasokan bibit nasional masih bergantung pada indukan luar negeri, sementara akses ke pakan lokal terhambat oleh regulasi dan mahalnya sertifikasi.
Ketergantungan pada bibit impor
Ony mengatakan akar masalah bermula dari sektor pembibitan. Meskipun Kementerian Pertanian sudah memiliki varietas lokal unggulan yang tersertifikasi, pemanfaatannya di tingkat peternak belum masif. Akibatnya, peternak bergantung pada bibit impor untuk ayam petelur dan pedaging.
"Sayangnya belum dibudidayakan masif. Potensi besar kita malah jalan di tempat,"
Tekanan regulasi dan cengkeraman integrator
Selain soal bibit, produsen pakan lokal sulit tumbuh. Ony menyebutkan aturan yang rumit dan biaya sertifikasi menjadi kendala utama. Situasi ini memaksa peternak membeli pakan dari pabrikan besar yang bahan bakunya dipengaruhi harga komoditas impor seperti jagung dan bungkil kedelai.
Struktur pasar yang tidak sehat juga memperparah masalah. Rantai usaha perunggasan—mulai dari bibit, pakan, hingga pemasaran—dikuasai integrator besar. Hasilnya, peternak skala rumah tangga kehilangan ruang gerak dan rentan terhadap fluktuasi harga.
"Oleh karena itu, Pemda tidak bisa hanya jadi penonton pasar bebas. Pemda harus hadir sebagai pelindung wong cilik,"
Tiga langkah konkret untuk Pemprov Jatim
Untuk menguatkan peternak rakyat, Ony mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur melakukan intervensi pasar melalui tiga langkah:
- Kemudahan akses bibit lokal: Memasyarakatkan dan mempermudah akses peternak terhadap varietas bibit lokal unggulan yang sudah tersertifikasi.
- Sertifikasi pakan lokal: Memfasilitasi proses sertifikasi bagi produsen pakan lokal agar bisa menawarkan produk berkualitas dengan harga lebih stabil dan terjangkau.
- Jaminan serapan pasar: Menjamin penyerapan hasil ternak rakyat untuk mencegah monopoli harga oleh korporasi besar.
Ony menegaskan intervensi tersebut harus mencakup bukan hanya unggas, tetapi juga ternak berkaki empat seperti sapi, kambing, dan domba.
"Jika peternak kecil dikuatkan dari hulu ke hilir, kita sedang membangun ketahanan sekaligus kedaulatan pangan yang berdikari,"
Dampak dan prospek
Jika langkah-langkah itu diimplementasikan, potensi peningkatan kedaulatan bibit dan stabilitas harga pakan bisa memperkuat ketahanan pangan daerah. Namun, keberhasilan bergantung pada komitmen pemerintah daerah dalam memangkas birokrasi sertifikasi dan menegakkan kebijakan pro-petani.
Kebijakan cepat dan terkoordinasi diperlukan agar peternak kecil tidak terus tersisih oleh integrator dan perubahan pasar global.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Ketua DPRD Minta Pemkot Malang Perketat Pengawasan Perusahaan soal BPJS
Ketua DPRD Malang minta Pemkot perketat pengawasan perusahaan soal kepesertaan BPJS setelah ada peserta nona...
Khitan Gratis di Magetan, PDI Perjuangan Gelar Layanan Rutin
DPC PDI Perjuangan, komunitas, dan Muhammadiyah Ngariboyo menggelar khitan gratis rutin setiap Jumat untuk m...
Soekarno Run Banyuwangi: Pelari Tampil dengan Kostum Beragam
Soekarno Run Banyuwangi 20 Sept 2026 menampilkan pelari dengan kostum adat, tokoh pewayangan, dan kreasi mod...
Anak Usia Dini Ikut Soekarno Run BWX 2026, Peserta Termuda 4 Tahun
Anak-anak ikut Soekarno Run BWX 2026 di Banyuwangi; peserta termuda 4 tahun dan kategori 1K jadi ruang penge...
Eri Cahyadi Tekankan Semangat Berdiri di Kaki Sendiri di Soekarno Run
Eri Cahyadi mengajak peserta Soekarno Run BWX 2026 menjadikan olahraga sebagai sarana membangun kemandirian,...
Romy Ajak Gen Z Kuasai Pengawasan Pemilu Jelang 2029
Romy Soekarno dorong Gen Z pahami pengawasan partisipatif jelang Pemilu 2029, waspadai hoaks, AI, dan politi...