Ekonomi

Pertamina dan Pemprov Jabar Perkuat Ekosistem Energi Bersih

Bagikan:
Ilustrasi pengolahan sampah menjadi energi dan fasilitas PSEL Legok Nangka

PT Pertamina (Persero)

Kerja sama ini bertujuan memanfaatkan sampah menjadi biomethane, hidrogen rendah karbon, dan biofuel. Inisiatif tersebut juga diharapkan menyelesaikan persoalan sampah sekaligus mempercepat transisi energi di Jawa Barat.

Ruang lingkup Kesepakatan

Kesepakatan mencakup pengembangan energi baru dan terbarukan, pengelolaan lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat. Selain itu, kerja sama melibatkan penyediaan feedstock hingga komersialisasi produk energi.

  • Pengembangan energi baru dan terbarukan
  • Pengelolaan lingkungan dan sampah
  • Pemberdayaan masyarakat dan ekonomi sirkular

Rencana pemanfaatan sampah di Sarimukti

Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha Pertamina, Emma Sri Martini, menyebutkan fokus utama adalah pemanfaatan methane dari TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat.

Biogas hasil pengolahan sampah akan dipurifikasi menjadi biomethane, lalu diproses menjadi hidrogen. Proses ini bagian dari pengembangan waste to energy yang terintegrasi.

"Kerja sama ini mencakup berbagai bidang, salah satunya pengelolaan sampah di kawasan TPA Sarimukti. Sampah yang diolah nantinya akan menghasilkan biogas, kemudian dikembangkan menjadi hidrogen dan biomethane," ujar Emma.

Emma menambahkan proyek ini merupakan sinergi antar Subholding Pertamina, yakni Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan Subholding Gas. Masing-masing bertugas mulai dari penyediaan bahan baku hingga distribusi produk energi.

Dia juga menyatakan keterlibatan mitra internasional, termasuk Hyundai dari Korea Selatan, untuk mempercepat pengembangan teknologi energi rendah karbon.

Groundbreaking PSEL Legok Nangka

Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan groundbreaking Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan TPPAS Legok Nangka.

Fasilitas ini dirancang mampu mengolah sekitar 2.000 ton sampah per hari menjadi energi listrik berkapasitas sekitar 40 MW. Selain listrik, proyek mendukung pengembangan hidrogen dan biomethane.

"Kami berharap pembangunan fasilitas ini dapat berjalan sesuai rencana sehingga dapat segera beroperasi. Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih baik," kata Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung.

Yuliot menambahkan fasilitas ini ditargetkan beroperasi pada 2029 dan diperkirakan mampu menyerap sekitar 1.500 tenaga kerja. Proyek juga mendorong penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan sampah menjadi energi dan bahan bakar terbarukan.

Dukungan daerah dan prospek

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan PSEL Legok Nangka memperkuat posisi Jawa Barat sebagai pusat pengembangan energi bersih. Ia menyebut akan memperluas pengembangan fasilitas serupa di wilayah lain.

"Dengan hadirnya fasilitas pengolahan sampah menjadi energi ini, Jawa Barat akan semakin memperkuat posisinya sebagai provinsi penghasil energi bersih terbesar di Indonesia," ujar Dedi.

Secara keseluruhan, kolaborasi ini membangun rantai nilai energi bersih yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Jika berhasil, model bisnis ini berpotensi direplikasi di daerah lain untuk mendukung transisi energi dan pengelolaan sampah yang lebih baik.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait