61,22% Pergerakan Penumpang KAI di Luar 10 Stasiun Terpadat
PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat 61,22 persen pergerakan penumpang berlangsung di luar sepuluh stasiun terpadat pada periode Januari–Juni 2026. Data itu diumumkan melalui laporan pada Jumat, 17 Juli 2026, dan menunjukkan peran layanan KA dalam menjangkau aktivitas sehari-hari masyarakat.
Ringkasan data pergerakan
KAI melaporkan total aktivitas naik dan turun penumpang mencapai 59.716.534 kali selama enam bulan pertama tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 36.560.181 pergerakan atau 61,22 persen terjadi di luar 10 stasiun terpadat.
"Di balik 36,56 juta aktivitas naik dan turun tersebut terdapat perjalanan menuju sekolah, kampus, rumah sakit, tempat kerja, pasar, pusat pelayanan publik, destinasi wisata, serta keluarga di daerah lain. Sebaran ini memperlihatkan peran transportasi dalam memperluas kesempatan masyarakat," kata Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI.
Stasiun terpadat dan distribusi layanan
Sepuluh stasiun teratas mencatat akumulasi 23.156.353 aktivitas naik-turun. Posisi teratas ditempati Stasiun Pasar Senen, diikuti oleh Gambir dan Yogyakarta—namun mayoritas pergerakan penumpang tetap terjadi di stasiun lain di Jawa dan Sumatra.
| Posisi | Stasiun | Pergerakan (aktivitas) |
|---|---|---|
| 1 | Pasar Senen | 3.849.606 |
| 2 | Gambir | 3.227.508 |
| 3 | Yogyakarta | 3.217.240 |
Perluasan layanan: tiga stasiun baru
Sejak April 2026, KAI menambah tiga stasiun operasional yaitu:
- Stasiun Comal
- Stasiun Plabuan
- Stasiun Rajapolah
Ketiga fasilitas itu mencatat kumulatif 13.338 pergerakan penumpang selama tiga bulan pertama operasionalnya. Angka ini menjadi indikator permintaan perjalanan baru setelah layanan disediakan.
"Perkembangan Comal, Plabuan, dan Rajapolah menunjukkan bahwa kebutuhan perjalanan mulai terlihat ketika pelayanan naik dan turun tersedia. Setiap angka menggambarkan masyarakat yang memperoleh pilihan baru untuk menjangkau kegiatan dan layanan di daerah lain," ujar Anne.
Dampak sosial dan prospek
Manajemen KAI menilai pemerataan akses layanan kereta dapat mendorong kualitas hidup dan pertumbuhan ekonomi daerah. Akses yang lebih mudah memungkinkan warga lebih leluasa mengatur pendidikan, layanan kesehatan, dan pekerjaan.
"Pemerataan transportasi pada akhirnya membuka pemerataan kesempatan. Ketika perjalanan semakin mudah direncanakan, masyarakat memiliki ruang yang lebih luas untuk belajar, menjaga kesehatan, bekerja, berdagang, dan meningkatkan kualitas hidup," kata Wisnu Pramudya, Executive Vice President Corporate Secretary KAI.
Data semester pertama ini memberi dasar perencanaan layanan berikutnya, termasuk evaluasi rute dan kapaitas stasiun untuk mengoptimalkan distribusi pergerakan penumpang di Jawa dan Sumatra.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Sertifikasi Halal Jadi Modal UMKM Bangun Kepercayaan Konsumen
Sertifikasi halal harus dijalankan sebagai komitmen produksi bagi UMKM agar kepercayaan konsumen terjaga; pr...
Peran BUMN Minerba Perlu Diperkuat, Setoran Negara Belum Optimal
Pemerintah diminta memperkuat peran BUMN di sektor minerba karena kekayaan USD4 triliun belum tercermin pada...
Literasi Keuangan Diperkuat untuk Cegah Aktivitas Ilegal
Anis Byarwati minta literasi keuangan diperkuat melalui kolaborasi DPR, OJK, BSI, dan media untuk cegah akti...
Menkop Dorong Koperasi Manfaatkan Dana Bergulir di Borobudur Expo
Menteri Koperasi mendorong pemanfaatan dana bergulir lewat LPDB di Borobudur Expo 17-20 Sept 2026 untuk memp...
Harga Emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian Naik 19 Sept 2026
Harga emas UBS dan Galeri24 di Pegadaian naik pada 19 Sept 2026, masing-masing Rp16.000 dan Rp15.000 per gra...
Harga Emas Antam Naik Rp15 Ribu, Menguat Empat Hari Beruntun
Harga emas Antam naik Rp15.000 menjadi Rp2.638.000/gram pada 19 September 2026, memperpanjang penguatan empa...