DPR Minta Percepatan Penanganan Sekolah Rusak Akibat Gempa NTT
Wakil Ketua Komisi X DPR RI Fraksi PKB, Lalu Hadrian Irfani, meminta percepatan penanganan sekolah yang rusak akibat gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Pernyataan itu disampaikan pada Senin, 17 Agustus 2026, menekankan keselamatan siswa dan hak pendidikan sebagai prioritas. Ia mendorong pendataan cepat, pencairan anggaran, serta penyediaan ruang belajar sementara agar proses belajar tetap berjalan.
Permintaan pendataan dan pencairan anggaran
Lalu Hadrian meminta pemerintah pusat dan daerah segera melakukan pendataan menyeluruh pada sekolah terdampak. Bangunan yang dinilai tidak aman harus ditutup hingga dinyatakan layak. Ia juga menekankan percepatan pencairan anggaran untuk perbaikan fasilitas pendidikan.
“Pemerintah pusat dan daerah harus mempercepat pencairan anggaran dan memperbaiki fasilitas sekolah. Jangan sampai anak-anak menjadi korban kedua karena proses pemulihan pendidikan berjalan lambat,”
Ruang belajar sementara untuk kelangsungan pendidikan
Pemerintah diminta menyiapkan ruang belajar sementara bagi sekolah yang mengalami kerusakan berat. Langkah ini penting agar kegiatan belajar mengajar tidak terhenti selama proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Dukungan terhadap guru dan siswa juga perlu dipastikan agar layanan pendidikan tetap berkelanjutan.
Bangunan baru harus tahan gempa
Untuk jangka panjang, Lalu Hadrian menegaskan bahwa rehabilitasi tidak cukup hanya memperbaiki bangunan lama. Sekolah yang dibangun kembali harus memenuhi standar konstruksi tahan gempa sehingga lebih aman dan tangguh terhadap bencana di masa depan.
“Pemerintah tidak boleh hanya memperbaiki bangunan lama. Sekolah yang dibangun kembali harus menggunakan standar konstruksi tahan gempa agar lebih aman dan tangguh,”
Perkuat mitigasi dan kesiapsiagaan di sekolah
Selain aspek fisik, ia meminta penguatan mitigasi bencana dalam pengelolaan satuan pendidikan. Kesiapsiagaan harus menjadi bagian penting, terutama di daerah berisiko tinggi seperti NTT.
- Penyediaan jalur evakuasi
- Simulasi gempa berkala
- Pelatihan guru untuk tanggap darurat
- Edukasi kesiapsiagaan bagi siswa
Transparansi dan pengawasan anggaran
Lalu Hadrian mengingatkan pentingnya transparansi dan pengawasan selama rehabilitasi. Anggaran yang dialokasikan harus tepat sasaran dan digunakan untuk pemulihan pendidikan. Ia memperingatkan agar situasi bencana tidak memicu persoalan baru akibat lemahnya pengawasan.
“Seluruh proses pembangunan harus transparan dan diawasi agar anggaran tepat sasaran. Jangan sampai dalam situasi bencana justru muncul persoalan baru karena lemahnya pengawasan,”
Penutup
Pemulihan sekolah pascagempa di NTT menjadi momentum memperkuat ketahanan infrastruktur pendidikan. Percepatan pendataan, pencairan anggaran, pembangunan tahan gempa, dan peningkatan kesiapsiagaan harus dijalankan bersamaan agar hak belajar dan keselamatan anak terjamin.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mendag: Penilaian 'Excess Capacity' Harus Berdasarkan Bukti
Mendag Budi Santoso minta penilaian 'excess capacity' dibuat berbasis bukti sektoral, dibahas dalam G20 TMM...
Pakar: Gugatan Syarat Pendidikan Wapres Seharusnya Ditolak MK
Pakar hukum menilai gugatan soal syarat pendidikan Wapres Gibran seharusnya tak dapat diterima MK karena sub...
Olivia Zalianty Harap Lagu Pancasila Perkuat Nilai Kebangsaan
Olivia Zalianty merilis lagu "Pancasila" untuk membantu masyarakat meresapi nilai negara melalui musik yang...
Kekeringan Meteorologis vs Hidrologis: Apa Bedanya?
BMKG jelaskan perbedaan kekeringan meteorologis dan hidrologis; 25 wilayah Jatim minta bantuan air hingga aw...
Kemenperin Siapkan SDM Kelola Pusat Logistik Industri Bambu
Kemenperin menyiapkan SDM lewat AKB 2026 untuk mengelola Pusat Logistik Industri Bambu, memperkuat rantai pa...
HUT ke-81 TNI: Pengendara Diminta Hindari Kawasan Cilangkap
Pengendara diimbau menghindari kawasan Mabes TNI Cilangkap pada Senin 5 Okt 2026 mulai pukul 06.00 WIB karen...