5 Penyebab Karhutla Kalimantan Mudah Meluas pada 2026
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali mengancam pada musim kemarau 2026. Risiko meningkat pada Agustus–September karena kombinasi aktivitas manusia, musim kemarau, El Niño, lahan gambut, dan angin. Peringatan datang dari BMKG yang menyebut peningkatan kerawanan pada provinsi seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Sekilas, ada lima faktor utama yang membuat kebakaran sulit dikendalikan dan cepat meluas. Berikut ringkasan singkatnya:
- Aktivitas manusia (pembukaan lahan dengan pembakaran).
- Musim kemarau yang mengeringkan vegetasi.
- El Niño yang memperparah kekeringan.
- Lahan gambut yang menyimpan bara bawah tanah.
- Angin yang mempercepat penyebaran api.
1. Aktivitas manusia sebagai sumber api
Banyak karhutla bermula dari tindakan manusia, seperti pembukaan atau pembersihan lahan dengan cara dibakar. Metode ini dipilih karena cepat dan murah. Namun ketika api hilang kendali, ia mudah merambat ke vegetasi kering dan lahan gambut, memperbesar skala kebakaran.
2. Musim kemarau mengeringkan bahan bakar alam
Musim kemarau menurunkan kelembapan tanah dan daun gugur, sehingga daun, semak, dan rumput menjadi bahan bakar mudah terbakar. Jika hujan tidak turun dalam periode panjang, titik api sekecil apa pun dapat menjalar luas dan sulit diputuskan rantainya.
3. El Niño memperparah kondisi kering
Fenomena El Niño memperkecil curah hujan sehingga memperpanjang dan memperdalam kekeringan. BMKG mencatat indeks Niño 3.4 mencapai 1,56 pada akhir Juli, menandai kategori El Niño kuat. Karena itu, periode Agustus–September diperkirakan memegang risiko tertinggi karhutla.
Pemerintah juga mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca untuk menjaga kelembapan wilayah rawan dan membantu upaya pemadaman.
4. Gambut menyimpan bara dan menyulitkan pemadaman
Lahan gambut yang mengering menjadi sumber bahan bakar yang sangat mudah terbakar. Api tidak sekadar melintas di permukaan; ia dapat menyala dan bertahan di bawah tanah. Oleh karena itu, titik api yang tampak padam belum tentu benar-benar mati.
BNPB menjelaskan bahwa pemadaman gambut membutuhkan pembasahan menyeluruh, baik dari darat maupun melalui operasi water bombing. Hingga akhir Juli, BNPB mencatat luas lahan terdampak kebakaran di Kalimantan Tengah mencapai 3.069,52 hektare.
5. Peran angin dalam mempercepat penyebaran
Angin dapat membawa api ke area baru dengan cepat, terutama jika di sekitarnya banyak vegetasi kering. Kombinasi angin, bahan kering, dan gambut memungkinkan api berkembang dari sumber kecil menjadi kebakaran skala besar.
Pencegahan dan langkah ke depan
Pencegahan sumber api menjadi langkah awal yang krusial. Selain itu, pemantauan titik panas dan pembasahan lahan gambut secara berkala diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas. Mengingat proyeksi rawan pada Agustus–September, upaya pencegahan dan kesiapsiagaan perlu ditingkatkan secara berkelanjutan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...