Pengamanan Aksi Dinilai Lebih Humanis, Aparat Diapresiasi
Jakarta, 27 Agustus 2026 — Pengamanan unjuk rasa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di depan Gedung DPR/MPR RI dinilai lebih humanis dan mendapat apresiasi dari aktivis. Aksi berlangsung aman dan kondusif, dengan penempatan aparat yang diklaim membantu penyampaian aspirasi secara tertib.
Apresiasi dari aktivis
Aktivis nasional dan Founder Kontra Narasi, Sandri Rumanama, menyatakan pendekatan aparat pada aksi kali ini berbeda dibanding tahun lalu. Menurutnya, pengamanan berjalan dengan sikap yang lebih manusiawi sehingga peserta dapat berunjuk rasa secara damai.
“Berbeda dengan tahun lalu, aksi Agustus tahun ini pengamanan berjalannya aksi perlu diapresiasi,”
Sandri menilai kerja aparat membantu menciptakan suasana yang terbuka bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat tanpa gangguan berarti. Ia mengajak publik memberi penghargaan kepada petugas yang mengawal jalannya demonstrasi secara damai.
Koordinasi komando dan peta situasi
Kepala polisi, pejabat Polda, Kepala BIN, dan jajaran terkait disebut terlibat dalam pemetaan situasi lapangan. Langkah koordinasi ini dinilai menjadi salah satu faktor utama terjaganya ketertiban selama aksi di kawasan parlemen.
Menurut keterangan, total 18.504 personel gabungan Polri dan TNI dikerahkan untuk mengawal serangkaian aksi unjuk rasa di sejumlah titik di Jakarta. Penempatan ini bertujuan memastikan keamanan dan kelancaran penyampaian aspirasi.
Manfaat pendekatan humanis
Sandri menekankan bahwa pengamanan yang humanis membuka ruang dialog antara aparat dan masyarakat. Pendekatan ini tidak hanya menjaga ketertiban, tetapi juga memperkuat ikatan sinergis antara aparat dan publik dalam menjaga suasana demokrasi.
Ia berharap pola pengamanan seperti ini dapat dipertahankan pada aksi-aksi mendatang, selama massa menyampaikan aspirasi secara tertib dan damai.
Implikasi dan harapan ke depan
Penerapan pengamanan yang lebih humanis dipandang sebagai langkah positif bagi kualitas demokrasi. Selain mencegah eskalasi konflik, pendekatan ini memberi kesempatan bagi penyaluran pendapat publik secara lebih bermartabat.
Ke depan, penguatan koordinasi antar-institusi dan pelatihan sikap humanis bagi petugas dinilai krusial untuk menjaga kestabilan dalam setiap aksi massa. Upaya tersebut diharapkan memperkecil potensi konfrontasi dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap aparat penegak keamanan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Korlantas: Kecelakaan Lalu Lintas Turun 22,92% hingga Juli 2026
Korlantas: kecelakaan lalu lintas turun 22,92% hingga Juli 2026 meski kendaraan dan mobilitas meningkat.
Pemerintah Kalibrasi Ulang DTSEN untuk Perbaiki Penyaluran Subsidi
Komisi XI DPR menyebut pemerintah mengkalibrasi ulang parameter DTSEN untuk meningkatkan akurasi data dan me...
Pemerintah Kalibrasi Ulang DTSEN untuk Perbaiki Sasaran Subsidi
Pemerintah kalibrasi ulang DTSEN untuk meningkatkan akurasi data penerima subsidi dan bantuan sosial agar ke...
KLH Periksa 42 Perusahaan Terkait Karhutla di Sumatra dan Kalimantan
KLH menurunkan ratusan pengawas untuk memeriksa 42 perusahaan terkait titik kebakaran di Sumatra dan Kaliman...
Gus Yahya: NU dan Indonesia Tak Bisa Dipisahkan
Gus Yahya tegaskan NU tak terpisah dari Indonesia saat buka Muktamar ke-35; dorong kerja sama pemerintah dan...
Akses SBM Dibuka melalui PT Berdikari, Harga Turun Jadi Rp8.630/kg
Pemerintah buka akses SBM lewat PT Berdikari untuk koperasi, dengan pasokan 30.000 ton dan harga sekitar Rp8...