Pengajian Taubat di Langsa: Da'i Muda Ajak Jamaah Kembali kepada Allah
Langsa, 2 Agustus — Malam Minggu di Masjid Agung Darul Falah Langsa menjadi momen refleksi ketika Tgk Abimaulana, da'i muda dan pengurus Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Langsa, menyampaikan pengajian tentang taubat berdasarkan kitab Tuhfatur Raghibin. Jamaah berkumpul setelah Magrib untuk mendengarkan pengingat agar hati kembali kepada Allah SWT.
Inti kajian: taubat sebagai perjalanan batin
Tgk Abimaulana menekankan bahwa taubat bukan sekadar mengucap istighfar. Menurutnya, taubat membutuhkan tiga unsur: penyesalan atas kesalahan, niat meninggalkan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Dengan pendekatan kitab kuning tersebut, ia mengajak jamaah menyelami makna dosa, penyesalan, dan jalan kembali kepada Allah.
Realitas dosa dan kewajiban kembali
Dalam suasana teduh, pengajian mengingatkan bahwa manusia sering tampil baik di hadapan sesama, tetapi tidak ada yang tersembunyi dari Allah. Setiap orang membawa catatan hidup sendiri: ada kesalahan yang diketahui orang lain, ada pula yang hanya diketahui diri sendiri dan Tuhan.
Jangan menunda taubat
Pesan penting lain yang disampaikan adalah larangan menunda taubat. Tgk Abimaulana memperingatkan jamaah agar tidak menunggu waktu tertentu sebelum bertaubat. Banyak orang beralasan:
- "Nanti saja bertaubat";
- "Nanti kalau sudah tua";
- "Nanti setelah pekerjaan selesai";
- "Nanti setelah urusan dunia beres".
Ia mengingatkan bahwa tidak ada yang tahu kapan hidup berakhir. Selagi diberi umur dan kemampuan beribadah, kesempatan memperbaiki diri harus dimanfaatkan.
Dakwah anak muda dan pelestarian tradisi keilmuan
Kehadiran Tgk Abimaulana sebagai da'i muda di ruang kajian tradisional menjadi penanda penting. Di tengah perubahan pola komunikasi, ia tetap memilih duduk bersama jamaah, membuka kitab, dan mengaitkan ajaran klasik dengan kehidupan sehari-hari. Agenda ini membantu merawat tradisi membaca kitab, mendengar penjelasan teungku, dan meneruskan warisan ilmiah Islam di Aceh.
Pesan akhir: pertanyaan yang harus dijawab sendiri
Pengajian itu menutup dengan sebuah pertanyaan sederhana namun mendalam: Sudahkah saya benar-benar bertaubat? Pertanyaan itu tidak perlu dijawab di hadapan orang lain, melainkan dalam kesunyian hati masing-masing. Taubat tidak menghapus masa lalu, tetapi dapat mengubah cara seseorang menjalani hari-hari setelahnya.
Malam Minggu di Darul Falah menegaskan satu pesan pokok: selama Allah masih memberi kesempatan, jangan pernah lelah untuk pulang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kejuaraan Karate Inkanas Open Pelajar Se-Sumut Dibuka di Batubara
Kejuaraan Karate Inkanas Open antar pelajar se-Sumut dibuka di Batubara, 325 atlet dari 12 daerah bersaing m...
Magister Manajemen USM-Indonesia Medan: Program untuk Profesional
Magister Manajemen USM-Indonesia Medan menawarkan program pascasarjana fleksibel dan aplikatif untuk ASN, ma...
Bupati Batubara Puji Bank Sampah Berseri Ubah Sampah Jadi Pakan
Bupati Batubara memuji Bank Sampah Berseri yang mengubah sampah rumah tangga menjadi pakan dan pupuk melalui...
Sumut Target Vaksinasi Rabies 15.000 HPR dan Aspirasi Publik Tuntas di Medan
Pemprov Sumut targetkan vaksinasi rabies 15.000 HPR dan bidik rekor MURI; selain itu masalah warga Medan dit...
Dugaan Ambil Batu Sungai di Irigasi Saba Bolak, APH Diminta Turun
Tokoh Sipirok minta APH periksa dugaan pengambilan batu sungai untuk rehabilitasi Irigasi Saba Bolak; dokume...
Pojok PBB Medan Raih Rp1,07 Miliar, Program Dilanjutkan
Pojok PBB Medan kumpulkan Rp1,07 miliar (15–18 Sept 2026); program dilanjutkan 21–30 Sept di tiga lokasi str...