Lokal

Pangdam IM Jelaskan Kronologi Bentrokan Penertiban Bendera di Pidie

Bagikan:
Lokasi penertiban bendera di Desa Pulo Keunari, Pidie, Aceh

Pidie, Aceh — Panglima Kodam Iskandar Muda (Pangdam IM) Brigjen TNI Mahesa Fitriadi memaparkan kronologi bentrokan saat penertiban bendera Bulan Bintang di Desa Pulo Keunari, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie, yang terjadi pada 4 November. Ia menyatakan 272 personel dikerahkan, tidak semua bersenjata, dan penggunaan senjata hanya dimaksudkan untuk memberi peringatan.

Kronologi penertiban

Menurut Mahesa, personel TNI/Polri memberi penjelasan kepada warga terkait pengibaran bendera tersebut. Namun, proses penertiban berujung ricuh setelah terjadi pelemparan batu dari berbagai arah.

“Dari depan, belakang, kiri, dan kanan memang sudah disiapkan pelemparan batu,” kata Mahesa dalam konferensi pers bersama Menko Yustisi Yusril Ihza Mahendra dan Kapolda Aceh.

Karena kondisi semakin berbahaya, Komandan Kodim memerintahkan mundur. Meski mundur, personel terus dikejar oleh massa sehingga dikeluarkan tembakan peringatan berupa peluru hampa dan peluru karet yang ditembakkan ke atas. Menurut Mahesa, tembakan itu tidak diarahkan ke warga.

“Mungkin dengan efek bunyi, saudara-saudara kita bisa menahan diri. Begitu yang saya sampaikan, saya meyakini dan pertanggungjawabkan, tidak ada satu butir pun munisi tajam.”

Investigasi internal dan langkah tindak lanjut

Mahesa menegaskan Kodam Iskandar Muda telah membuka penyelidikan internal untuk mendalami peristiwa tersebut. Proses investigasi masih berjalan dan hasilnya akan diumumkan setelah lengkap.

“Kami masih mendalami secara internal, kami akan mengadakan investigasi.”

Sampai proses selesai, personel yang terlibat belum dikembalikan ke satuan masing-masing dan tetap dikonsolidasikan di Kodim Pidie. Selain itu, senjata yang digunakan saat penertiban telah dipisahkan untuk mengetahui persis alat yang meletus memberi peringatan.

Tim internal TNI juga dijadwalkan turun ke titik kejadian untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pangdam mengimbau warga Tiro agar tenang dan tidak terpancing emosi.

Korban dan dampak

Bentrokan pada 4 November itu menyebabkan 14 warga menjadi korban, dengan 13 orang luka-luka dan satu orang meninggal akibat luka tembak di dada. Empat belas korban juga termasuk enam personel TNI yang mengalami luka-luka.

Penutup: prospek penanganan

Kasus ini berpotensi berlanjut ke proses internal militer dan langkah kepolisian sesuai temuan penyelidikan. Pihak militer berjanji menginformasikan hasil investigasi setelah pendalaman selesai, sementara aparat mengimbau warga menjaga ketertiban agar situasi kembali kondusif.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait