Hari ke-9: Basarnas Persempit Pencarian Delapan Hilang di Selat Sunda
Basarnas mempersempit area pencarian delapan orang yang hilang setelah kapal KM Arupadatu bermasalah di perairan Selat Sunda. Pada hari kesembilan, Rabu, 16 September 2026, operasi dipusatkan lebih dekat ke pesisir dan dibagi menjadi delapan sektor untuk memperkecil radius penyisiran.
Pemekatan area dan metode pencarian
Kepala Seksi Operasi Kantor SAR Banten, Rizky Dwiant, menyatakan luas area pencarian hari itu mencapai 3.439 nautical mile. Tujuan pembagian menjadi delapan sektor adalah untuk memperinci penyisiran sehingga area yang dicakup menjadi lebih detail.
"Sebelumnya jarak antarlintas (track spacing) pencarian kapal sekitar 3 nautical mile. Hari ini kita rapatkan menjadi 1 sampai 2 nautical mile agar penyisiran lebih detail."
Rizky menjelaskan bahwa pengerahan armada difokuskan di wilayah tenggara Gunung Anak Krakatau. Penempatan ini didasarkan pada perhitungan arus, gelombang, dan angin menggunakan metode SARMAP.
Kekuatan SAR dan pembagian sektor
Operasi hari kesembilan melibatkan 570 personel dan 22 unit kapal. Personel tersebut terdiri dari 307 orang di armada laut utama dan 263 orang siaga di posko darat.
- Sektor A — 511 NM persegi: disisir oleh KRI Dewa Kembar dan KP Sanjaya
- Sektor B — 539 NM: ditangani oleh KN SAR Basudewa
- Sektor C — 585 NM: disisir oleh KRI Leuser
- Sektor D — 319 NM: ditangani KN SAR Antasena dan KRI Lepu
- Sektor E — 271 NM (perairan dekat pesisir): RIB 02 Lampung dan KAL Pahawang
- Sektor F — 265 NM: disisir oleh tujuh unit kapal Polairud
- Sektor G — 282 NM: RIB 02 Banten, KAL Anyer, dan RBB Pulau Peucang
- Sektor H — 667 NM: dikawal KN SAR Tetuka, KRI Kerambit, KRI Gilimanuk, dan KN Damaru
Armada yang dikerahkan meliputi tiga unit KN SAR, dua unit RIB milik Basarnas, lima KRI, dua KAL, satu RBB dari TNI AL, serta delapan kapal patroli Polairud.
Cuaca dan kondisi Gunung Anak Krakatau
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan perairan Selat Sunda berawan tinggi dengan tinggi gelombang 0,5 hingga 2,5 meter. Kecepatan angin diperkirakan 5-20 knot dari arah tenggara ke selatan, sehingga menjadi faktor yang diperhitungkan dalam operasi pencarian.
Pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menunjukkan Gunung Anak Krakatau masih tertutup kabut. Oleh karena itu, seluruh personel diminta menjaga prioritas keselamatan selama penyisiran.
Pencarian tetap dilanjutkan dengan penyesuaian taktik berdasarkan kondisi lapangan. Upaya koordinasi antara Basarnas, TNI AL, Polairud, BMKG, dan PVMBG diharapkan memperbesar peluang menemukan korban dan menekan risiko bagi tim penyisir.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Penumpang Speedboat Belum Ditemukan, Pencarian Diperluas ke Bengkulu
Tim SAR memperluas pencarian speedboat Arupadhatu ke pesisir Pulau Enggano dan Bengkulu; delapan penumpang m...
Pabrik Grease Shell Beroperasi, Pasokan Domestik Makin Kuat
Pabrik grease Shell resmi beroperasi di Jakarta (15 Sept 2026), kapasitas 12 juta liter/tahun dan didukung 1...
Birokrasi Hambat Peringatan Dini Erupsi di Kawasan Pelosok
Birokrasi dan keterbatasan kewenangan pos pengamatan memperlambat peringatan dini erupsi di kawasan pelosok,...
Kemenhub Perkuat Pencarian Korban KMP Virgo Transport 8
Kemenhub mengintensifkan pencarian 129 korban KMP Virgo Transport 8 sejak 13 September 2026 di Laut Jawa; 11...
Mensos Tinjau Operasional SRT 3 Sulsel, Pastikan Fasilitas Aman
Mensos Saifullah Yusuf meninjau operasional SRT 3 Sulsel di Makassar untuk memastikan fasilitas dan asrama m...
Basarnas Siapkan Operasi Bawah Air untuk Kecelakaan KM Virgo
Basarnas menyiapkan operasi bawah air untuk menangani kecelakaan KM Virgo, namun pelaksanaan bergantung pada...