MAA Langsa: Pemulihan Pascabanjir Harus Sentuh Akar Ekologis
Langsa — Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Langsa menegaskan pemulihan pascabanjir tidak cukup dengan bantuan dan pembersihan saja. Pernyataan itu disampaikan anggota pengurus MAA, Rizal Fami, saat Focus Group Discussion tim peneliti UIN Sumatera Utara di Kota Langsa pada Jumat, 11 September. Menurut Rizal, upaya harus menyentuh akar persoalan ekologis dan melibatkan masyarakat adat secara aktif.
Akar persoalan ekologis yang perlu diatasi
Rizal mengatakan banjir bukan sekadar luapan air. Ia menyoroti sejumlah masalah struktural, seperti sungai yang dangkal, saluran air tersumbat, berkurangnya kawasan resapan, dan berkurangnya pepohonan. Selain itu, tata ruang yang kurang terencana memperparah risiko banjir.
Dia menekankan perlunya perbaikan sistem drainase dan pengembalian fungsi kawasan resapan sebagai bagian dari pemulihan jangka panjang.
Peran kearifan lokal dan dokumentasi pengetahuan
MAA meminta agar penanganan juga memanfaatkan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Rizal menyebut pengetahuan masyarakat Aceh tentang sungai, hutan, tanah, air, dan tanda-tanda alam sangat bernilai.
Ia mengusulkan pendokumentasian peran pawang uteun dan peutua seuneubok, lalu memadukannya dengan ilmu pengetahuan modern untuk strategi restorasi lingkungan yang lebih efektif.
Meuseuraya: aksi kolektif sebagai kunci
Rizal mengajak seluruh elemen masyarakat bekerja sama. Ia menekankan semangat meuseuraya atau gotong royong sebagai metode praktis dalam pemulihan pascabanjir. Pemerintah, tokoh adat, tokoh agama, pemuda, dunia usaha, dan organisasi sosial harus terlibat bersama.
"Pemulihan harus dilakukan bersama masyarakat, bukan hanya untuk masyarakat," — Rizal Fami
Nilai agama dalam menjaga lingkungan
Menurut Rizal, pelestarian alam juga memiliki dimensi keagamaan. Menjaga lingkungan disebut bagian dari amanah karena manusia berperan sebagai khalifah di bumi. Oleh karena itu, tokoh agama diminta aktif mendorong perilaku ramah lingkungan.
"Lingkungan harus dirawat bukan karena takut bencana, tetapi karena merupakan amanah Allah kepada manusia sebagai khalifah di bumi," — Rizal Fami
Langkah praktis dan prospek ke depan
Untuk langkah konkret, Rizal mendorong edukasi lingkungan, penghijauan massal, program gotong royong pemeliharaan sungai, dan pengelolaan sampah terpadu. Ia juga meminta keterlibatan generasi muda sebagai pelopor perubahan.
Dengan menggabungkan kearifan lokal dan ilmu modern serta memperkuat kerja sama lintas elemen, MAA berharap pemulihan pascabanjir berjalan berkelanjutan dan mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Empat Pemuda Aceh Besar Raih Penghargaan Pemuda Inovatif 2026
Empat pemuda Aceh Besar menerima penghargaan Pemuda Inovatif 2026 pada peringatan Sumpah Pemuda; inovasi mel...
Sulthan Muhammad Yus Ditunjuk Juru Bicara Pemerintah Banda Aceh
Wali Kota Banda Aceh tunjuk Wakil Ketua KNPI Aceh Sulthan Muhammad Yus jadi Juru Bicara Pemerintah pada 28 O...
Pesta Budaya Njuah-Njuah Dairi: Kirab, Seni Pakpak, dan Dampak Ekonomi
Pesta Budaya Njuah-Njuah di Sidikalang (29/10) menampilkan kirab, pagelaran Pakpak, penyerahan hak ulayat, d...
Bupati Labuhanbatu Ajak IDI Perkuat Sinergi Tingkatkan Layanan Kesehatan
Bupati Maya Hasmita minta IDI Labuhanbatu perkuat sinergi Pemkab untuk tingkatkan kualitas dan akses layanan...
Ingin Jaya Juara Fahmil Quran Putra MTQ Aceh Besar 2026
Kafilah Kecamatan Ingin Jaya juarai Fahmil Quran Putra MTQ XXXV Aceh Besar 2026 dengan nilai 1.175, diumumka...
Labuhanbatu Tetapkan Wajib Belajar 1 Tahun Prasekolah
Pemkab Labuhanbatu mengeluarkan Perbup No.26/2026 yang mewajibkan 1 tahun pendidikan prasekolah untuk anak u...