Ekonomi Meningkat, Pemulihan Kelas Menengah Masih Jadi Tantangan
Tenaga Ahli Badan Komunikasi RI (Bakom) Fithra Faisal menilai kenaikan indikator makro belum mencerminkan pemulihan nyata bagi kelas menengah. Dalam wawancara pada Rabu, 30 September 2026, ia mengatakan penurunan jumlah kelas menengah dan kualitas lapangan kerja menjadi tanda peringatan bagi kebijakan ekonomi.
Penurunan jumlah kelas menengah
Fithra mengutip data BPS yang menunjukkan jumlah penduduk kelas menengah turun drastis. Pada 2019 tercatat 57,3 juta orang, sementara pada 2025 tinggal 46,7 juta orang. Artinya, ada penurunan sekitar 10,6 juta orang yang menunjukkan sebagian masyarakat mengalami penurunan status ekonomi.
"Pada 2019, jumlah kelas menengah mencapai 57,3 juta orang, tetapi pada 2025 jumlahnya tinggal 46,7 juta orang. Artinya, ada penurunan sebanyak 10,6 juta orang yang menunjukkan sebagian masyarakat mengalami penurunan status ekonomi,"
Kualitas lapangan kerja dan sektor informal
Menurut Fithra, keterbatasan lapangan kerja formal mendorong pergeseran ke sektor informal. Fenomena ini semakin tampak sejak pandemi Covid-19, ketika banyak pekerja formal beralih untuk mempertahankan penghasilan.
Meskipun angka pengangguran terakhir tercatat sebesar 4,65 persen, angka itu belum mencerminkan kualitas pekerjaan. Banyak pekerja tercatat bekerja tetapi berada di sektor informal dengan pendapatan dan kepastian kerja yang terbatas.
"Kalau kita melihat lebih jauh, angka pengangguran memang rendah, tetapi banyak pekerja masuk sektor informal. Mereka tetap bekerja, namun pekerjaan yang dijalani belum tentu berkualitas dan mampu memberikan kesejahteraan yang memadai,"
Perubahan sumber pertumbuhan ekonomi
Fithra juga menyoroti pergeseran struktur pertumbuhan. Dalam tiga kuartal terakhir, pertumbuhan lebih banyak ditopang oleh investasi dibandingkan konsumsi rumah tangga. Hal ini tercermin pada angka investasi yang meningkat pada beberapa kuartal terakhir.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Jumlah kelas menengah (2019) | 57,3 juta |
| Jumlah kelas menengah (2025) | 46,7 juta |
| Angka pengangguran terakhir | 4,65% |
| Investasi (Kuartal IV 2025) | 6,12% |
| Investasi (Kuartal I 2026) | 5,96% |
| Investasi (Kuartal II 2026) | 6,87% |
| Konsumsi (tercatat) | 5,52% dan 5,06% |
Tantangan kebijakan dan implikasi
Peralihan daya dorong pertumbuhan dari konsumsi ke investasi membawa tantangan baru. Pemerintah harus memastikan investasi menciptakan lapangan kerja berkualitas dan menaikkan kesejahteraan secara merata. Jika tidak, angka makro yang membaik tidak akan dirasakan masyarakat sehari-hari.
Fithra menekankan perlunya kebijakan yang memperkuat pekerjaan formal dan meningkatkan kapasitas tenaga kerja. Tanpa langkah konkret, pemulihan kelas menengah tetap menjadi masalah struktural yang mengancam keberlanjutan pertumbuhan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...