Gaya Hidup

Kebugaran Anak Muda Indonesia: Minat Tinggi, Informasi Justru Membingungkan

Bagikan:
Anak muda berolahraga di gym dan menggunakan aplikasi kesehatan

Jakarta. Minat terhadap kebugaran di kalangan anak muda Indonesia meningkat, tetapi banjir informasi kesehatan yang saling bertentangan membuat banyak dari mereka bingung dan ragu menerapkan kebiasaan sehat sehari-hari.

Minat aktif namun praktik tidak konsisten

Banyak anak muda kini rutin berolahraga, ikut kelas kebugaran, dan menggunakan aplikasi kesehatan. Namun minat itu belum selalu berujung pada kebiasaan sehat yang konsisten.

Fitri, 23, dan Retno, 21, menunjukkan variasi pola. Fitri berolahraga tiga kali seminggu untuk menjaga kebugaran dan suasana hati, sementara Retno lebih santai dengan sekitar sekali seminggu.

"Saya biasanya latihan tiga kali seminggu. Kalau sibuk mungkin dua kali. Saya pilih gym dan lari karena bikin lebih fit dan mood juga bagus," kata Fitri.

"Saya tidak ikut tren olahraga terbaru. Saat ada waktu, saya lari atau lakukan olahraga ringan. Yang penting tetap aktif," kata Retno.

Data survei: penggunaan aplikasi dan kebingungan informasi

Survei PwC Indonesia 2026 menunjukkan sebagian anak muda memang aktif, tapi juga rentan terhadap informasi berlebih.

  • 61% anak muda melaporkan melakukan aktivitas fisik secara teratur.
  • 31% membayar keanggotaan gym, kelas kebugaran, atau pelatih pribadi.
  • 90% menggunakan aplikasi kesehatan atau perangkat wearable untuk memantau kondisi.
  • 42% merasa kewalahan oleh banyaknya atau bertentangannya informasi kesehatan.

Konten daring: tren viral versus bukti ilmiah

Media sosial dipenuhi saran diet, klaim makanan tinggi protein, rekomendasi suplemen, hingga standar tubuh ideal. Volume konten yang besar mempersulit pemilahan informasi yang valid.

"Kadang saya bingung karena satu posting bilang baik, posting lain bilang tidak. Misalnya soal diet atau suplemen. Jadi saya tidak langsung percaya dan cari sumber yang saya anggap kredibel," kata Putri, 22.

"Informasi terlalu banyak. Kalau diikuti semua malah bingung. Saya fokus ke dasar: olahraga, makan sehat, dan tidur cukup," ujar Reva, 21.

Hasil penelitian akademis

Studi "Post-pandemic Behavior Among Indonesian Young Adults" yang dipublikasikan di jurnal Berita Kedokteran Masyarakat (Universitas Gadjah Mada) pada Maret 2026 meneliti 260 responden usia 18–23 tahun.

  • 80,4% berolahraga kurang dari 10 kali sebulan atau tidak mencapai 150 menit per minggu.
  • 58,1% menunjukkan preferensi terhadap makanan ultra-processed.
  • 65,4% mengalami kekurangan tidur, rata-rata 6–7 jam per malam.

Saran ahli: utamakan bukti dan kebiasaan berkelanjutan

Nutritionist Lisa Prianti menyatakan minat pada kebugaran menandai pergeseran menuju pencegahan, bukan sekadar pengobatan setelah sakit. Namun ia menekankan pentingnya kemampuan memilah informasi.

"Konten yang viral tidak otomatis akurat secara ilmiah. Perhatikan sumber, dasar ilmiahnya, dan relevansinya untuk kondisi Anda," kata Lisa.

Lisa menekankan prinsip sederhana: bangun kebiasaan yang sesuai kebutuhan dan pertahankan secara konsisten.

Kesimpulannya, antusiasme anak muda terhadap kebugaran membuka peluang untuk hidup lebih sehat. Namun untuk mewujudkannya diperlukan kemampuan kritis dalam menilai informasi dan fokus pada kebiasaan sehari-hari yang realistis dan berkelanjutan.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait