Nasional

Pemerintah Alihkan Pembelajaran Pascagempa NTT ke Kelas Darurat

Bagikan:
Tenda kelas darurat di halaman sekolah pascagempa NTT

Pembelajaran pascagempa di Nusa Tenggara Timur dialihkan ke kelas darurat setelah puluhan sekolah rusak. Pemerintah pusat dan daerah menyiapkan tenda kelas, tim verifikasi, serta layanan pendampingan psikologis untuk menjaga kelangsungan belajar siswa.

Kerusakan sekolah dan dampak di Ngada

Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngada, Yakobus Mite (Jack), menyatakan ada 74 sekolah terdampak, dengan 33 di antaranya mengalami kerusakan berat. Kerusakan terjadi di beberapa kecamatan, termasuk Riung, Riung Barat, dan Bajawa Utara.

“Untuk kondisi sekolah yang terdampak, saat ini 74 sekolah. Dan kategori rusak berat 33,” kata Jack.

Beberapa bangunan tidak dapat digunakan sehingga kegiatan belajar mengajar belum berjalan normal di banyak lokasi.

Pembelajaran darurat: tenda, lapangan, dan kunjungan guru

Untuk memastikan proses belajar tetap berjalan, sekolah memanfaatkan tenda kelas darurat, lapangan sepak bola, dan ruang terbuka lain. Namun, sejumlah orang tua enggan mengizinkan anak kembali ke sekolah karena khawatir terhadap keselamatan pascagempa dan gempa susulan.

Guru merespon dengan berbagai cara agar siswa tetap menerima pembelajaran.

  • Guru mengunjungi rumah siswa yang tidak bisa kembali ke sekolah.
  • Siswa dikumpulkan di lokasi aman terdekat untuk belajar bersama.
  • Pendampingan psikologis dan kegiatan trauma healing disediakan untuk membantu pemulihan siswa.

“Guru-guru juga berkunjung ke rumah siswa bagi yang tidak bisa bergabung karena pertimbangan orang tua maupun karena kondisi. Ada beberapa siswa yang tertimpa bangunan saat gempa itu, memang harus ada kunjungan ke rumah, tidak bisa bergabung,” ujar Jack.

Distribusi tenda dan dukungan Kemendikdasmen

Secara nasional, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi melalui Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) mendistribusikan tenda kelas darurat dan menerjunkan tim teknis untuk memverifikasi kerusakan.

Jumlah tenda yang dikirim dan alokasi wilayah tercatat sebagai berikut:

Wilayah Jumlah Tenda
Manggarai 28
Manggarai Timur 27
Manggarai Barat 8
Ngada 5
Sikka 8
Nagekeo 17

“Mulai dari Direktorat PAUD, SD, SMP, SMA, SMK, PK PLK, minggu ini akan menerjunkan tim ke lapangan. Kemudian, kami juga sudah berkoordinasi dengan masing-masing pemerintah daerah agar melakukan pemetaan, pendataan,” ujar Jamjam Muzaki dari Sekretariat Nasional SPAB Kemendikdasmen.

Kendala pemulihan

Beberapa wilayah di Ngada masih mengalami gangguan jaringan internet dan listrik. Gangguan ini menghambat pembelajaran daring serta pelaporan kondisi sekolah ke pemerintah pusat.

Pemulihan pendidikan berlangsung bertahap, dengan prioritas keselamatan siswa dan guru serta perbaikan fasilitas pendidikan sesuai hasil verifikasi tim teknis.

Langkah ke depan: koordinasi antara pusat dan daerah akan dilanjutkan untuk pemetaan kerusakan, perbaikan bangunan, dan pemenuhan kebutuhan fasilitas agar proses belajar dapat kembali normal.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait