Pelemahan Rupiah Jadi Momentum Evaluasi Kebijakan Ekonomi
Presiden Aspek Indonesia, Muhammad Rusdi, menilai pelemahan rupiah harus menjadi momentum untuk mengevaluasi kebijakan ekonomi nasional termasuk fiskal, moneter, dan ketenagakerjaan. Pernyataan itu disampaikan dalam dialog bersama Pro3 RRI pada Sabtu, 6 Juni 2026.
Evaluasi kebijakan secara menyeluruh
Rusdi meminta agar semua kebijakan ekonomi dikaji ulang untuk menghindari langkah yang keliru. Ia menekankan evaluasi tidak hanya pada satu ranah, melainkan meliputi kebijakan fiskal, moneter, dan ketenagakerjaan.
"Momentum rupiah makin melemah, ini momentum untuk mengevaluasi seluruh kebijakan ekonomi kita. Baik fiskal, moneter, maupun juga kebijakan perburuhannya, agar jangan salah langkah," — Muhammad Rusdi, Presiden Aspek Indonesia.
Menurut Rusdi, evaluasi harus terukur dan terintegrasi. Langkah ini dimaksudkan untuk mengantisipasi dampak ekonomi yang berpotensi menimbulkan masalah lebih luas jika tidak cepat ditangani.
Sektor yang paling terdampak dan yang diuntungkan
Ia menjelaskan dampak pelemahan rupiah tidak merata antar sektor. Beberapa industri justru mendapat keuntungan dari penguatan dolar AS.
- Sektor paling terdampak: industri yang bergantung pada bahan baku impor, seperti industri kimia, serta perusahaan yang menghadapi biaya gas industri tinggi.
- Sektor yang diuntungkan: komoditas ekspor seperti nikel, batu bara, dan crude palm oil (CPO), yang cenderung mendapat keuntungan dari pelemahan nilai tukar.
"Ini berdampak negatif, karena memang bagi sebagian industri, seperti industri kimia yang mereka basisnya adalah menggunakan bahan-bahan impor. Selain itu, juga dengan harga gas industri yang masih relatif mahal, ini tentunya ada dampak," ujarnya.
"Nah, satu sisi juga bagi ekspor komoditas justru ini menguntungkan, seperti komoditas nikel, batu bara, dan juga CPO. Ini tentunya mereka sedang tenang," tambah Rusdi.
Rekomendasi: pemetaan dan dukungan untuk dunia usaha
Rusdi menyarankan pemerintah melakukan pemetaan sektor usaha yang paling tertekan akibat pelemahan nilai tukar. Tujuannya agar intervensi kebijakan tepat sasaran dan tidak memperparah kondisi tenaga kerja.
"Tinggal bagaimana pemerintah inisiatif memetakan perusahaan-perusahaan yang memang berdampak negatif, kemudian dibackup," katanya.
Dengan pemetaan dan dukungan kebijakan, pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara sektor yang diuntungkan dan dirugikan oleh perubahan nilai tukar.
Implikasi ke depan
Langkah evaluasi dan intervensi yang cepat dinilai penting untuk mencegah tekanan ekonomi berkembang menjadi masalah besar dalam ketenagakerjaan. Rusdi mengingatkan bahwa kebijakan yang tepat dan terukur akan membantu meminimalkan risiko pengurangan tenaga kerja dan menjaga stabilitas sektor usaha.
Dengan pendekatan yang terkoordinasi, diharapkan dampak negatif pelemahan rupiah dapat dikendalikan sambil memanfaatkan peluang bagi sektor ekspor.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Menkop Dorong MES Jadi Penggerak Ekonomi Syariah Riil
Menkop minta MES beralih dari literasi ke penguatan sektor riil, dengan pilot di Jawa Barat dan pengembangan...
Menteri PKP Pacu Pembangunan 2.539 Rumah Subsidi di Tangerang
Kementerian PKP percepat pembangunan 2.539 rumah subsidi di Kabupaten Tangerang 2026, dukung lewat BSPS, KUR...
Tiga Taman Nasional Dapat Status PPK-BLU, Kelola Pendapatan Sendiri
Tiga taman nasional—Bromo Tengger Semeru, Komodo, dan Rinjani—resmi berstatus PPK-BLU untuk kelola pendapata...
Menbud Ajak Anak Lestarikan Permainan Tradisional di Hari Anak
Menbud Fadli Zon mengajak anak melestarikan permainan tradisional saat Festival Generasi Berani untuk kurang...
Prabowo 'Gercep' Revitalisasi SDN Tanggirejo, 131 Siswa Terlayani
Revitalisasi SDN Tanggirejo di Grobogan dimulai 25 Juli 2026; perbaikan menyasar atap, ruang kelas, perpusta...
BULOG Optimis Capai Target 4 Juta Ton Beras
BULOG mencatat pengadaan setara beras 3,5 juta ton hingga 24 Juli 2026; optimistis target 4 juta ton segera...