PDIP Tegaskan Politik Beradab dalam Peringatan 30 Tahun Kudatuli
JAKARTA — Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menegaskan komitmen partainya untuk mengedepankan politik yang membangun peradaban dalam peringatan 30 tahun peristiwa Kudatuli, Selasa (21/7/2026) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pernyataan itu disampaikan usai pembukaan pameran sejarah bertajuk Meretas Jalan Demokrasi.
Konteks peringatan dan amanat
Peringatan ini berdasarkan arahan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Hasto mengatakan pesan Megawati menjadi pijakan PDIP untuk mendorong etika politik yang menempatkan substansi dan peradaban di atas serangan personal.
Dari pesan Ibu Megawati Soekarnoputri, maka PDI Perjuangan juga akan mendorong agar politik yang membangun peradaban itu dikedepankan. Bahwa kritik harus dikedepankan berkaitan dengan kebijakan, tidak boleh ada pendiskreditan terhadap orang per orang. Tetapi yang diberikan sebagai kritik adalah sekali lagi kebijakan agar watak dari kekuasaan betul-betul sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa kita.
Kritik pada kebijakan, bukan serangan personal
Hasto menegaskan bahwa penyampaian kritik di ruang publik harus fokus pada substansi kebijakan pemerintah. Menurutnya, kritik yang konstruktif membantu membentuk tata kelola sesuai cita-cita pendiri bangsa, sedangkan serangan personal hanya merusak iklim politik.
Pesan antikejahatan politik
Ia menambahkan, iklim politik nasional harus dijauhkan dari fitnah, ujaran kebencian, dan upaya menjatuhkan martabat pribadi antaraktor politik. PDIP memakai tema peringatan 'Kami Tidak Pernah Lupa' untuk menjaga memori kolektif agar tragedi serupa tidak terulang.
Kami berharap semua pihak belajar agar tidak boleh terjadi kekerasan atas nama apa pun oleh kekuasaan terhadap rakyatnya.
Pelajaran dari Kudatuli
Hasto menyatakan Kudatuli menjadi pelajaran bahwa watak kekuasaan yang otoriter dan menindas tidak boleh dibiarkan hidup. Demokrasi harus diterangi nilai kemanusiaan, kebenaran, dan keadilan, serta didukung pers bebas, masyarakat sipil kuat, pendidikan politik yang baik, dan hukum yang adil.
Data korban dan singkat sejarah
Peristiwa Kerusuhan 27 Juli 1996 (Kudatuli) terjadi di kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. Konflik ini muncul dari perebutan kekuasaan di internal PDI antara kubu Megawati dan kubu Soerjadi yang didukung rezim Orde Baru.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Tanggal | 27 Juli 1996 |
| Lokasi | Kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat |
| Catatan korban (Komnas HAM) | 5 tewas, 149 luka-luka, 23 hilang |
Penyerbuan ke markas pendukung Megawati oleh massa pro-Soerjadi dan aparat memicu kerusuhan massal. PDIP berharap peringatan ini menjadi pengingat kolektif agar demokrasi di Indonesia tetap berlandaskan hak asasi dan hukum yang tidak tebang pilih.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Ketua DPRD Minta Pemkot Malang Perketat Pengawasan Perusahaan soal BPJS
Ketua DPRD Malang minta Pemkot perketat pengawasan perusahaan soal kepesertaan BPJS setelah ada peserta nona...
Khitan Gratis di Magetan, PDI Perjuangan Gelar Layanan Rutin
DPC PDI Perjuangan, komunitas, dan Muhammadiyah Ngariboyo menggelar khitan gratis rutin setiap Jumat untuk m...
Soekarno Run Banyuwangi: Pelari Tampil dengan Kostum Beragam
Soekarno Run Banyuwangi 20 Sept 2026 menampilkan pelari dengan kostum adat, tokoh pewayangan, dan kreasi mod...
Anak Usia Dini Ikut Soekarno Run BWX 2026, Peserta Termuda 4 Tahun
Anak-anak ikut Soekarno Run BWX 2026 di Banyuwangi; peserta termuda 4 tahun dan kategori 1K jadi ruang penge...
Eri Cahyadi Tekankan Semangat Berdiri di Kaki Sendiri di Soekarno Run
Eri Cahyadi mengajak peserta Soekarno Run BWX 2026 menjadikan olahraga sebagai sarana membangun kemandirian,...
Romy Ajak Gen Z Kuasai Pengawasan Pemilu Jelang 2029
Romy Soekarno dorong Gen Z pahami pengawasan partisipatif jelang Pemilu 2029, waspadai hoaks, AI, dan politi...